WARTA & ARTIKEL DAKWAH

Kumpulan Tulisan, Berita Kegiatan & Catatan Ilmu

Menghimpun risalah hikmah, pengumuman jadwal istighosah, dan dokumentasi khidmah majlis Al-Ashkhabiyyah.

02 Jan 2026 • Admin

Wewelar yang hanya lewat Layar

Guru itu menatap layar ponselnya cukup lama. Pesan terakhir masih ada di sana, belum tenggelam oleh obrolan lain. “Manggono ngqof ojo nang nun. Belajar istiqomah, jangan mengejar karomah.” Beliau mengirimkan kalimat itu ke tiga grup WhatsApp majlis ashkhabiyyah. Tidak sekali. Beliau menuliskannya dengan hati-hati, lalu mengulanginya tiga kali, seolah berharap pengulangan bisa menggantikan suara dan tatapan. Dalam batinnya ia bertanya: “Apakah pesan yang baik memang harus diulang-ulang agar dianggap penting?” Belum yakin cukup, beliau menjadikannya status WhatsApp dua kali dalam satu hari. Pagi, lalu sore. Bukan untuk pamer nasihat, tapi karena ada kegelisahan yang tak bisa ia ucapkan langsung. Beliau membaca kembali status itu. “Aku tidak sedang melarang karomah,” batinnya berbicara, “aku hanya takut kalian tersesat arah. Ngqof itu tempat berdiri, nun itu tujuan. Kalau berdirinya belum kuat, mengapa ingin cepat sampai?” Namun yang ia lihat di percakapan grup justru hal lain. Pertanyaan-pertanyaan tentang tanda, mimpi, kejadian aneh. Cerita-cerita yang lebih bersemangat saat membahas keistimewaan, namun sunyi ketika diajak bicara tentang kesabaran dan kebiasaan kecil yang dijaga setiap hari. Guru itu menarik napas pelan. “Apa istiqomah memang terlalu biasa sampai tak dianggap berharga?” “Atau aku yang terlalu berharap pada pesan singkat di layar?” Jarinya sempat ragu sebelum mengunci ponsel. “Tugasku hanya mengingatkan,” katanya dalam hati, “meski hanya lewat tulisan, meski harus diulang, meski hanya menjadi status yang dilewati.” Sore itu, beliau tidak menulis lagi. Beliau memilih diam, membiarkan pesan itu bekerja dengan caranya sendiri. Sebab beliau tahu, wewelar guru bukan soal dibaca atau tidak, tetapi soal kapan hati siap menerima.

01 Jan 2026 • Admin

Ruh kalam guru maskipun hanya tulisan medsos

kalam seorang guru bukan sekadar rangkaian huruf, tetapi nafas ruhani yang dibungkus tulisan. Walau ia hanya berupa status singkat di media sosial, atau kalimat sederhana di dalam grup, ruh ilmu tetap menyertainya. Sebab guru tidak menulis dari kehendak nafsu, melainkan dari izin dan sebab. Setiap kalamnya lahir membawa niat, hikmah, dan arah—meski tidak semua murid langsung memahaminya. Orang awam membaca tulisan guru dengan mata. Murid membaca dengan akal. Ahli suluk membaca dengan hati. Kadang satu kalimat terasa biasa hari ini, namun kelak—saat hati dibuka Allah—maknanya menjelma menjadi petunjuk. Karena ilmu sejati tidak selalu turun lewat lisan, tetapi sering dititipkan dalam isyarat. Guru menulis bukan untuk dipuji, bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk mengetuk pintu kesadaran. Siapa yang membaca dengan adab, akan menerima sesuai wadahnya. Siapa yang meremehkan, ia hanya melihat huruf, bukan cahaya. dikatakan: “Al-kalāmu ṣūratun, wa r-rūḥu ma‘nāhā.” Kalam itu bentuk, ruhnya adalah makna. Maka jangan meremehkan tulisan guru, sekecil apa pun. Bisa jadi di dalamnya tersembunyi doa, peringatan, atau panggilan pulang—yang hanya terdengar oleh hati yang siap. Wallāhu a‘lam. Jalan yang sedang kau tapaki ini bukan jalan biasa. Ini adalah jalan orang-orang yang berani, bukan berani berkelahi, tetapi berani kehilangan segalanya demi Allah. Para sahabat utama Nabi ﷺ — Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali — mereka bukan orang yang nyaman hidupnya. Mereka adalah orang yang siap menyerahkan harta, kehormatan, bahkan nyawa, agar Islam tetap tegak. Maka bila hatimu masih ingin aman, ingin dipuji, ingin selalu menang, lebih baik berhenti dengan jujur. Karena di jalan ini, orang yang setengah-setengah pasti akan jatuh. Jalan ini sudah lama. Ia dilalui oleh air mata para Nabi, dibasahi oleh darah para syuhada, dan akan terus seperti itu sampai akhir zaman. Bukan jalan pesta, tetapi jalan pengorbanan dan kesabaran. Namun jika engkau menyiapkan mentalmu, jika engkau siap sakit, diuji, disalahpahami, maka berjalanlah. InsyaAllah, dengan izin-Nya, aku akan menuntunmu agar selamat sampai kepada Allah, bukan sampai kepada manusia. Anakku… Jangan sibuk memerangi syaitan di luar dirimu. Karena musuh terdekatmu bukan di luar, tetapi di dalam hatimu sendiri. Kalahkan dulu: nafsu ingin dipuji rasa paling benar kemarahan kesombongan halus dan keinginan menguasai Jika syaitan di dalam dirimu telah kau tundukkan, maka syaitan di luar akan kehilangan pegangan. Anakku… Suatu hari kelak, engkau akan memahami: syaitan diciptakan bukan semata untuk menyesatkan, tetapi untuk melatih kewaspadaan dan menguatkan langkah para pencari kebenaran. Ia adalah lawan tandingmu, bukan tujuanmu. Ketika engkau telah benar-benar tertambat kepada Allah, syaitan tak lagi punya jalan. Sebab saat itu, yang ada hanya Dia, bukan aku, bukan engkau. Anakku… Akan datang masa ketika Allah sendiri yang mengujimu. Seperti kisah para ahli ibadah terdahulu, yang ditinggikan maqamnya lalu diberi pilihan kemuliaan. Jika ujian itu datang kepadamu, jangan meminta apa pun. Serahkan segalanya kepada-Nya. Sebab pada titik itu, meminta berarti memilih, dan memilih berarti turun dari penyerahan total. Keselamatanmu ada pada diam, ridha, dan pasrah penuh. Para Guru kita mengajarkan bahwa doa tertinggi adalah “Engkau yang ku maksud dan redha-Mu yang aku cari.” Maqam tertinggi itu tidak lain adalah menjadi Hamba yang baik. Anakku…. Jalan menuju syurga itu penuh duri dan air mata. Apakah kita harus mengalami sakit? Ya Apakah perlu menjalani derita? Ya Apakah harus mengalirkan airmata? Ya Dan hanya airmata orang Zikirullah yang boleh memadamkan neraka. Kalau engkau masih merasakan sakit, susah, kecewa dan tersinggung maka sebenarnya engkau masih lemah. Jalanilah semua cubaan Allah dengan sabar dan tawakal. Disaat semua penderitaan dan kesusahan yang menimpa tidak mempengaruhi anda sedikitpun, maka disaat itulah engkau telah mengalami pencerahan dan engkau telah menjadi manusia kuat dalam erti yang sebenarnya. Bukankah Rasulullah telah mengingatkan kita melalui sabdanya: “Orang kuat bukanlah orang yang mengalahkan musuh di medan pertempuran akan tetapi orang yang boleh menahan marah disaat dia marah.” Maka, jangan pernah kepercayaanmu kepada Allah lebih kecil daripada kepercayaanmu kepada manusia. Jika kepada tukang cukur saja engkau pasrahkan kepalamu tanpa curiga, mengapa kepada Allah engkau masih ragu terhadap takdir dan ketetapan-Nya? Husnudzonmu kepada Allah harus paling besar, karena Dia tidak pernah salah menata hidup hamba-Nya.

01 Jan 2026 • Admin

Perjalanan ruhani sang pendosa 7 (Pemahaman dari Mengamati Guru Saat Sholat Jumat)

Saat sholat Jumat, kebetulan aku berada tepat di belakang shaf guruku. Ketika iqomah berkumandang, aku memperhatikan sesuatu yang berbeda. Kenapa beliau belum berdiri? Jamaah lain sudah ada yang berdiri di awal iqomah, sebagian lagi di tengah-tengah iqomah, tapi guruku tetap duduk hingga iqomah selesai. Aku bertanya dalam hati: “Apakah ada doa khusus sebelum berdiri setelah iqomah? Apakah beliau sedang membaca doa tertentu?” Tiba-tiba, muncul pemahaman dari dalam hatiku. Kali ini bukan seperti bisikan batin biasanya, tapi langsung terasa dalam hati: “Perhatikan gurumu. Saat beliau berdiri, pejamkan matamu dan rasakan dengan hatimu.” Ketika iqomah selesai, beliau baru berdiri, dan saat itu juga hembusan angin lembut terasa di dalam masjid. Aku bertanya dalam hati: “Apakah ini karena doa atau adab beliau, sampai-sampai alam seolah merestui?” Jawaban dari dalam hatiku muncul: “Bukan karena doa atau adab beliau, tapi ketahuilah… Saat iqomah dikumandangkan dalam sholat Jumat, ada malaikat yang berdiri di depan imaman depan masjid, dia membawa catatan besar, untuk mencatat siapa saja yang hadir dalam sholat Jumat. Ketika iqomah selesai, malaikat itu pergi terbang meninggalkan masjid.” “Hembusan angin yang kau rasakan itu bukan sekadar angin biasa, tetapi karena malaikat itu terbang dengan sayapnya yang begitu besar.” Baru aku sadar guruku sedang mengajari aku pemahaman lainya

01 Jan 2026 • Admin

Perjalanan ruhani sang pendosa 6 Cahaya di Balik Sedekah Beras (29 romado 1446H)

Di sebuah majlis yang penuh berkah, tuan guru kami mendapat petunjuk agar majlis ini semakin berkembang. Salah satu ikhtiarnya adalah dengan bersedekah beras 5 kg. Setiap anggota jamiyah diminta membawa beras sebagai wujud keikhlasan. Saat daftar nama dibacakan, aku bersyukur namaku tidak tercantum dalam daftar utama. Bukan karena tidak ingin bersedekah, tetapi aku merasa masih anggota baru dan khawatir timbul kesombongan dalam hatiku jika namaku disebut. Malam itu, majlis mengadakan riyadhoh, memanjatkan doa agar sedekah yang dikumpulkan menjadi jalan kebaikan bagi seluruh anggota. Saat guru kami menyentuh beras yang telah dikumpulkan, aku melihat sesuatu yang luar biasa. Lima cahaya muncul, masing-masing melambangkan nikmat yang akan membantu para anggota menemukan jalan hidup mereka: 1. Cahaya putih  2. Cahaya kuning  3. Cahaya hijau  4. Cahaya coklat (biru) 5. Cahaya merah  Saat itu, aku menyadari bahwa setiap orang membutuhkan salah satu dari lima nikmat ini untuk menemukan kebenaran dalam hidupnya. Tiba-tiba, suara berbisik di batinku memberitahuku bahwa malaikat akan datang. Seketika, aku mengirimkan Al-Fatihah untuk beliau. Aku mendengar suara batin yang mengatakan malaikat turun dari langit, tidak menyentuh tanah, tetapi bertengger di dedaunan, menyaksikan proses penulisan nasib nikmat di atas beras sedekah. Saat itu hujan turun, tetapi anehnya ketika guru kami mulai mendoakan beras, hujan menjadi rintik ringan, seolah tertahan oleh keberkahan (aku yakin itu sayap beliau), Dan begitu doa selesai, hujan kembali turun agak deras. Kemudian, Ustadz Bahrul Ulum membacakan Surah Al-Bayyinah. Wajah malaikat tampak gembira sebelum beliau kembali ke langit. Setelah itu, para anggota melanjutkan wirid, dan aku merasakan seakan penduduk langit mengamini riyadhoh kami. Acara pun ditutup dengan bacaan Ya Dzal Jalali wal Ikram, penduduk bumi seakan mengamini riyadoh kami, dan seluruh majlis penuh dengan keberkahan. Namun, ada satu hal yang membuatku gelisah. Aku mulai bertanya-tanya: Nikmat apa yang tertulis pada berasku? Jika itu nikmat dunia seperti harta, aku bisa membalasnya dengan lebih banyak sedekah untuk majlis. Tapi bagaimana jika itu nikmat iman? Atau nikmat keluarga? Atau nikmat waktu? Apa yang bisa aku berikan sebagai balasan? Malam itu, aku merenung. Aku sadar bahwa setiap nikmat yang Allah berikan adalah amanah. Dan ketika kita mendapatkannya, kita harus mencari cara untuk mensyukurinya dengan sebaik mungkin.

01 Jan 2026 • Admin

Perjalanan ruhani sang pendosa 5 (Makna Berdoa Menghadap Bulan)

Pada malam ke-13, wirid ditutup dengan doa menghadap bulan: “Allahumma sumber dunia, dalilnya lafadz Rahama, malaikat Qasim, Nabi Sulaiman, gedungnya Allah, kuncinya Rasulullah, Laa ilaha illallah.” Saat aku melafalkan doa ini, tiba-tiba ada suara dalam batinku yang menggerutu: “Ada orang yang membaca doa ini sambil berpikir ingin meminta sesuatu dari bulan. Wah, celaka! Tapi untungnya, doa ini diakhiri dengan kalimat Laa ilaha illallah. Semoga mereka paham dan tetap selamat dalam keimanan.” Aku pun bertanya dalam hati: “Apa sebenarnya maksud dari doa menghadap bulan ini?” Lalu batinku menjawab: “Ketahuilah, menghadap bulan itu bukan untuk menyembah bulan, tetapi sebagai pengingat akan sifat Rahim Allah.” • Matahari melambangkan sifat Rahman Allah (kasih sayang-Nya yang diberikan kepada semua makhluk, baik mukmin maupun kafir). • Sedangkan bulan melambangkan sifat Rahim Allah (kasih sayang-Nya yang khusus untuk orang-orang beriman). Kemudian, makna dari doa ini semakin jelas: • “Dalil lafadz Rahman” → Menjelaskan bahwa sifat Rahim Allah hanya diberikan kepada orang mukmin. • “Malaikat Qasim” → Malaikat yang bertugas membagi rezeki, khusus untuk orang mukmin. • “Seperti raja dunia, Nabi Sulaiman” → Sebagai simbol kekuasaan dan rezeki yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya. • “Allah adalah pemilik doa ini” → Doa ini berasal dari kasih sayang Allah kepada Nabi Muhammad. Jadi, berdoa menghadap bulan bukan berarti meminta kepada bulan, tetapi sebagai pengingat bahwa Allah memiliki kasih sayang khusus bagi orang-orang beriman.

01 Jan 2026 • Admin

Perjalanan sang pendosa 4 (Pemahaman tentang Kun Fayakun dalam Dzikir Nafas)

Pemahaman ini datang tiba-tiba dalam batinku, setelah pengajian selesai, saat aku hendak beristirahat. Dalam kondisi hampir tertidur, aku seakan teringat kembali suasana majlis tadi. Tiba-tiba, ada suara pemahaman yang menghampiri dan memberitahuku bahwa ada seseorang yang sedang mencari makna Kun Fayakun dari Tuhan. Aku bertanya dalam hati: “Kenapa kamu memberitahuku? Aku tidak mau tahu urusan orang lain.” Batin itu menjawab: “Ini ada hubungannya dengan pemahamanmu tentang dzikir nafas—tentang keluar dan masuknya nafas.” Hu Allah • Hu (saat menarik nafas) • Allah (saat menghembuskan nafas) “Tidak ada kehendak Tuhan dan diriku sendiri.” “Tidak ada wujud yang tampak dalam hembusan nafas ini, kecuali wujud Allah.” Kemudian, pemahaman itu berbalik arah: • Hu (saat menghembuskan nafas) • Allah (saat menarik nafas) “Tidak ada wujudku, kecuali Allah.” “Tidak ada kehendakku, kecuali kehendak Allah.” Dari sinilah aku mulai memahami bahwa kehendak manusia sebenarnya sudah termasuk dalam kehendak Allah—itulah makna Kun Fayakun. Kuncinya ada di tengah nafas. Untuk menemukan kunci ini, seseorang harus memahami 12 sifat manusia. 12 sifat kelahiran dan 12 sifat kematian

01 Jan 2026 • Admin

Perjalanan sang pendosa bagian 3 (Bisikan di Malam 22 Ramadhan)

Malam itu, pada tanggal 22 Ramadhan, aku tidak ikut pengajian di makam Sohibul Karomah, Mbah Ahmad, bersama Majlis Ashabiyah. Ada uzur yang membuatku harus lebih mendahulukan urusan usahaku. Saat tertidur, di antara keadaan sadar dan tidak, hatiku tiba-tiba berbicara seakan menegur, “Lapo gak melu ngaji?” (Kenapa tidak ikut ngaji?). Seakan ada tabir yang terbuka, memperlihatkan sesuatu tentang majlis yang selama ini aku ikuti. Dalam penglihatan itu, aku melihat sebuah masjid besar dengan 12 anak tangga besar. Di depannya, berkibar sebuah bendera setengah tiang. Aku berdiri tepat di bawahnya, ingin mencoba menaikkan bendera itu lebih tinggi. Namun, sebuah suara membimbingku, “Ojo sek, nenggo Putra Kinasih” (Jangan dulu, tunggulah Putra Kinasih). Aku pun mengangguk dan diam. Kemudian, suara itu mulai menceritakan tentang Majlis Ashabiyah. “Ada delapan tingkatan majlis,” katanya. Majlis Ashabiyah berada di tingkatan kelima—bukan yang tertinggi, tetapi juga bukan yang terendah. Setiap tingkatan memiliki beberapa majlis yang serupa, dan ketahuilah semua pada dasarnya satu, majlis qolbu bisa dengan mudah memlelajari majlis dibawahnya dan majlis dibawah majlis qolbu tidak bisa mempelajari majlis diatasnya sebelum mempelajari qolbu. (Begitu uraian kalimat yang saya tangkap) Aku penasaran dan bertanya, “Lalu, tingkat pertama itu apa?” Suara itu menjawab, “Tingkat pertama adalah majlis Dzat Allah, yang langsung dibimbing oleh Jeng Nabi.” Aku bertanya lagi, “Kalau Majlis Dalail berada di tingkat berapa?” “Tingkat keenam,” jawab suara itu. Aku heran dan bertanya lagi, “Mengapa Ashabiyah lebih tinggi, padahal anggota Dalail jauh lebih banyak?” Suara itu menjawab, “Ashabiyah adalah majlis yang bersifat qolbu, hanya ada 12 majlis serupa di seluruh dunia. Sedangkan Dalail adalah majlis dunia yang jumlahnya lebih banyak.” Aku termenung, menyadari betapa tingginya kedudukan majlis ini… Suara itu terus berbicara, menjelaskan lebih banyak, tetapi aku tidak bisa menangkap semuanya karena harus bersiap makan sahur. Meski begitu, suara batin itu terus melanjutkan penjelasannya… Keesokan paginya, aku dikejutkan oleh kabar dari guruku. Ia memintaku untuk ikut majlis pada malam 23 Ramadhan. Aku memberanikan diri untuk menceritakan tentang bisikan yang kudengar tadi malam. Namun, yang lebih mengejutkan—guruku membenarkan apa yang aku alami. Aku sempat khawatir, takut jika yang kudengar hanyalah bisikan nafsu belaka. Aku takut tersesat lagi. Namun, di sisi lain, aku berharap ini adalah petunjuk agar hatiku semakin bersih. Semoga Allah menjagaku dari sifat sombong dan selalu membimbingku di jalan yang benar.

01 Jan 2026 • Admin

Perjalanan ruhani sang pendosa 2 (Pemahaman tentang Dzikir Cepat)

Saat mengikuti dzikir Ramadan, aku terkejut ketika guru membaca “Allahumma syafi’il Khalqi wa ‘ala alaih” sebanyak 1.500 kali dalam waktu sekitar 1 jam. Aku pun mencoba menghitung. Jika dzikir itu harus dibaca sebanyak itu dalam satu jam, berarti setiap bacaan hanya punya waktu sekitar 2 detik. Aku sudah mengikuti dzikir ini empat kali, tetapi tidak pernah berhasil menyelesaikannya. Aku mulai ragu, “Apakah guruku benar-benar bisa menyelesaikan dzikir ini?” Saat itu, tiba-tiba ada suara dalam batinku yang menegur: “Tahukah kamu? Ahli dzikir itu ada tingkatannya. Jika seseorang sudah sampai pada tingkatan membuka titik-titik dzikir dalam tubuhnya, maka titik-titik itu yang akan melafalkan wirid tersebut.” “Sadarkah kamu? Tasbih itu sebenarnya hanya sebagai alat untuk menghitung bagi orang yang masih dalam tahap awal dzikir.” “Bagi ahli dzikir sejati, pelafalan dzikir bukan hanya terjadi di pikiran, hati, atau lisan, tetapi seluruh titik dalam tubuh ikut berzikir. Itu sebabnya mereka bisa membaca dzikir dengan cepat tanpa kehilangan maknanya.” Dari situ, aku mulai memahami bahwa dzikir bukan hanya soal seberapa cepat kita membaca, tetapi bagaimana dzikir itu menyatu dengan diri kita.

01 Jan 2026 • Admin

Perjalanan ruhani sang pendosa 1 (Pemahaman Titik Huruf “Ya” dalam Dzikir Ramadan)

Saat pertama kali mengikuti dzikir Ramadan, aku tahu bacaan yang harus dibaca. Tapi dalam hati, aku hanya ingin ketenangan. Aku pun memutuskan untuk tidak ikut melafalkan dzikir dan memilih untuk merenung, sementara semua jamaah tetap membaca dzikir dengan suara lantang. Tiba-tiba, ada suara dalam batinku yang berbisik: “Kenapa kamu sibuk mencari titik pada huruf ‘Ba’? Kenapa tidak belajar memahami titik pada huruf ‘Ya’?” “Bopomu (gurumu) sedang berwirid agar kamu bisa memahami titik pada huruf ‘Ya’.” Aku bertanya dalam hati: “Wirid yang mana?” Suara batin itu menjawab: “Bopomu mengawali wirid dengan bacaan Yaa Khayyuu… Yaa Khayyuu. Apakah kamu tahu makna huruf ‘Ya’ dalam bacaan itu?” Aku menjawab dengan tegas: “Tidak!” Lalu suara itu menjelaskan: “Huruf ‘Ya’ dalam wirid itu maksudnya, bopomu sedang menyambungkan hatimu dengan Nur Ahmad dan Muhammad. Perhatikan titik pada huruf ‘Ya’, itu adalah simbol dari Ahmad dan Muhammad. Bopomu sedang menghidupkan hatimu agar tersambung dengan dua titik itu, supaya jalanmu tidak keliru.” Dari situ, aku mulai memahami bahwa dzikir bukan hanya soal melafalkan bacaan, tapi juga tentang menyambungkan hati dan memahami makna yang lebih dalam.

Menampilkan halaman 12 dari 17 (Total 152 data)