Perjalanan ruhani 1 Januari 2026 Admin

Perjalanan sang pendosa bagian 3 (Bisikan di Malam 22 Ramadhan)

Perjalanan sang pendosa bagian 3 (Bisikan di Malam 22 Ramadhan)

Malam itu, pada tanggal 22 Ramadhan, aku tidak ikut pengajian di makam Sohibul Karomah, Mbah Ahmad, bersama Majlis Ashabiyah. Ada uzur yang membuatku harus lebih mendahulukan urusan usahaku.

Saat tertidur, di antara keadaan sadar dan tidak, hatiku tiba-tiba berbicara seakan menegur, “Lapo gak melu ngaji?” (Kenapa tidak ikut ngaji?). Seakan ada tabir yang terbuka, memperlihatkan sesuatu tentang majlis yang selama ini aku ikuti.

Dalam penglihatan itu, aku melihat sebuah masjid besar dengan 12 anak tangga besar. Di depannya, berkibar sebuah bendera setengah tiang. Aku berdiri tepat di bawahnya, ingin mencoba menaikkan bendera itu lebih tinggi. Namun, sebuah suara membimbingku, “Ojo sek, nenggo Putra Kinasih” (Jangan dulu, tunggulah Putra Kinasih). Aku pun mengangguk dan diam.

Kemudian, suara itu mulai menceritakan tentang Majlis Ashabiyah.

“Ada delapan tingkatan majlis,” katanya.

Majlis Ashabiyah berada di tingkatan kelima—bukan yang tertinggi, tetapi juga bukan yang terendah. Setiap tingkatan memiliki beberapa majlis yang serupa, dan ketahuilah semua pada dasarnya satu, majlis qolbu bisa dengan mudah memlelajari majlis dibawahnya dan majlis dibawah majlis qolbu tidak bisa mempelajari majlis diatasnya sebelum mempelajari qolbu. (Begitu uraian kalimat yang saya tangkap)

Aku penasaran dan bertanya, “Lalu, tingkat pertama itu apa?”

Suara itu menjawab, “Tingkat pertama adalah majlis Dzat Allah, yang langsung dibimbing oleh Jeng Nabi.”

Aku bertanya lagi, “Kalau Majlis Dalail berada di tingkat berapa?”

“Tingkat keenam,” jawab suara itu.

Aku heran dan bertanya lagi, “Mengapa Ashabiyah lebih tinggi, padahal anggota Dalail jauh lebih banyak?”

Suara itu menjawab, “Ashabiyah adalah majlis yang bersifat qolbu, hanya ada 12 majlis serupa di seluruh dunia. Sedangkan Dalail adalah majlis dunia yang jumlahnya lebih banyak.”

Aku termenung, menyadari betapa tingginya kedudukan majlis ini…

Suara itu terus berbicara, menjelaskan lebih banyak, tetapi aku tidak bisa menangkap semuanya karena harus bersiap makan sahur. Meski begitu, suara batin itu terus melanjutkan penjelasannya…

Keesokan paginya, aku dikejutkan oleh kabar dari guruku. Ia memintaku untuk ikut majlis pada malam 23 Ramadhan. Aku memberanikan diri untuk menceritakan tentang bisikan yang kudengar tadi malam.

Namun, yang lebih mengejutkan—guruku membenarkan apa yang aku alami.

Aku sempat khawatir, takut jika yang kudengar hanyalah bisikan nafsu belaka. Aku takut tersesat lagi. Namun, di sisi lain, aku berharap ini adalah petunjuk agar hatiku semakin bersih.

Semoga Allah menjagaku dari sifat sombong dan selalu membimbingku di jalan yang benar.