WARTA & ARTIKEL DAKWAH

Kumpulan Tulisan, Berita Kegiatan & Catatan Ilmu

Menghimpun risalah hikmah, pengumuman jadwal istighosah, dan dokumentasi khidmah majlis Al-Ashkhabiyyah.

13 Apr 2026 • Admin

Bedah Makna: Filosofi Bilangan dalam Bahasa Jawa

(Penjabaran murid dengan penuh adab dari hikmah yang beredar di tengah jamaah) Mukadimah Dengan penuh adab, tulisan ini bukan untuk memastikan kebenaran asal-usul bahasa, tetapi nggih nyobi ngambil hikmah lan rasa dari filosofi bilangan dalam bahasa Jawa, agar menjadi bahan renungan bagi kita semua. 1. Likur: Simbol “Mulai Mendapat Tempat” Dalam bahasa Jawa, angka: 21 → selikur 22 → rolikur hingga 29 → songo likur Tidak disebut “rong puluh siji” dan seterusnya, tetapi menggunakan istilah likur. Diartikan secara hikmah: Likur = lingguh kursi (duduk di kursi) Penjabaran:Usia 21–29 adalah fase: mulai menemukan arah hidup mulai punya pekerjaan atau peran mulai “duduk” pada posisi kehidupan ➡️ Makna hakikat:Manusia mulai diuji bukan lagi dengan mencari, tetapi menjaga posisi dan tanggung jawab hidupnya. 2. Selawé (25): Puncak Gejolak Rasa Ada keunikan pada angka 25, tidak disebut “limang likur”, tetapi: Selawé = senenge lanang lan wedok Penjabaran:Ini menggambarkan fase: puncak ketertarikan antara laki-laki dan perempuan masa di mana banyak orang mulai menikah ➡️ Makna hakikat:Bukan sekadar asmara, tetapi ujian bagaimana menyalurkan rasa dalam jalan yang halal dan bertanggung jawab. 3. Seket (50): Tanda Kembali ke Kesadaran Secara pola harusnya “limang puluh”, namun disebut: Seket = seneng kethunan (senang memakai tutup kepala) Penjabaran:Di usia ini: rambut mulai memutih fisik mulai menurun tanda-tanda usia terlihat jelas Namun dalam makna lebih dalam: kopiah/tutup kepala → simbol ketaatan tanda mulai serius dalam ibadah ➡️ Makna hakikat:Usia 50 adalah panggilan untuk kembali menata diri, memperbanyak ibadah, dan menyiapkan bekal akhirat. 4. Sewidak (60): Isyarat Wektu Tindak Angka 60 dalam Jawa disebut: Sewidak / Suwidak = sejatiné wis wayahe tindak Penjabaran:Ini adalah pengingat halus: umur sudah matang waktu hidup di dunia semakin sedikit saatnya benar-benar siap menghadap Allah ➡️ Makna hakikat:Hidup bukan lagi tentang merencanakan dunia, tetapi mempersiapkan kepulangan. 5. Benang Merah: Dari Duduk hingga Berangkat Jika dirangkai, filosofi ini memberi alur kehidupan: Likur → mulai mendapat tempat Selawé → mengelola rasa dan hubungan Seket → kembali kepada ibadah Sewidak → siap untuk pulang ➡️ Makna hakikat:Hidup manusia itu bergerak:dari dunia → menuju tanggung jawab → menuju kesadaran → menuju kepulangan Penutup Filosofi ini bukan sekadar permainan kata, tetapi bisa menjadi: pengingat perjalanan hidup cermin untuk melihat posisi diri dorongan untuk memperbaiki arah Dalam bahasa sederhana: enom goleki papandiwasa ngopeni tanggung jawabtuwa bali marang Gusti Mugi-mugi kita sedaya: diparingi umur sing manfaat diparingi kesadaran sebelum terlambat lan dipungkasi kanthi khusnul khotimah Aamiin…Gusti Allah

05 Feb 2026 • Admin

Jam’iyah Dirumat, Bukan Dituntut (Nikmat Berada Dikerambah Al-Wilayah)

Dalam perjalanan jam’iyah, amaliah bukanlah alat untuk menilai satu sama lain. Setiap murid berjalan dengan proses dan waktunya masing-masing. Sebuah dawuh guru yang disampaikan kepada jam’iyah mengingatkan hal ini dengan sangat jernih: “Masio gur poso sunnah yo wong jam’iyah tak tirakti. Ora gur tak nasehati.” Dawuh ini menegaskan bahwa guru memilih merawat, bukan menuntut. Amaliah adalah laku pribadi, sementara jam’iyah adalah ruang rahmah, bukan ruang perbandingan. Guru tidak kekurangan nasehat, tetapi menjaga agar jam’iyah tetap menjadi tempat yang aman untuk bertumbuh. Dalam suluk, sering kali pengaruh terbesar justru bekerja melalui keteladanan dan tirakat yang sunyi. Semoga jam’iyah senantiasa dijaga dalam adab, kesabaran, dan kasih, sehingga setiap murid dapat melangkah dengan tenang sesuai kadar dan kesanggupannya. Pesan yang diterukan kh masda andi ke group jam’iyah

02 Feb 2026 • Admin

Jalan Sunyi Para Pelayan “Pesan Menghujab Guru”

Guru dawuh dengan kalimat singkat, sederhana, namun menghantam tepat ke dasar kehidupan: “Sopo sing nglayani, akan dilayani” Kalimat ini bukan janji balasan manusia, bukan pula rumus dagang kebaikan. Ini adalah kaidah hidup, hukum ruhani yang bekerja diam-diam. Dalam tasawuf, siapa yang melayani dengan ikhlas, sejatinya sedang dilayani Allah melalui jalan yang tidak ia duga. Guru menegaskan: “Iki dudu janji balasan menungso Tapi kaidah hidup.” Artinya, khidmah tidak menunggu ucapan terima kasih, tidak berharap pengakuan. Ia bekerja seperti air: mengalir, membersihkan, lalu hilang tanpa nama. Khidmah Bukan Transaksi, Tapi Amal Sunyi Guru lalu menancapkan garis tegas: “Khidmat kui dudu transaksi, dudu golek pujian. TAPI IKI AMAL SUNYI sing dikerjakno kanti ikhlas” Di sinilah banyak orang gagal. Khidmah sering diseret ke wilayah pamrih: ingin dianggap, ingin disebut, ingin dihormati. Padahal, begitu khidmah dicampuri pamrih, ia turun derajat menjadi kerja biasa, bukan ibadah. Amal sunyi artinya: dikerjakan ketika tidak dilihat, tetap dilakukan meski tidak dihargai, dan dijaga meski hati diuji. Kaidah Ilahi yang Tak Terbantahkan Guru melanjutkan dengan keyakinan penuh: “Gak ono balasan kebaikan kecuali kebaikan……ayo ono sing arep mbantah ta…..” Ini bukan tantangan emosi, tetapi pernyataan iman. Dalam Al-Qur’an, kaidah ini sudah ditegaskan: hal jaza’ul ihsani illal ihsan. Siapa pun yang pernah hidup dalam dunia khidmah, tahu bahwa balasan kebaikan sering datang bukan dari manusia, tapi dari Allah dengan cara yang halus dan tepat waktu. Jalan Khidmah Itu Luas Guru lalu membuka pintu bagi semua orang: “Lek ora iso mulang ngaji, yo ewangono wong wong seng mulang ngaji” Ini pesan besar agar tidak ada alasan untuk tidak khidmah. Tidak semua orang bisa berdiri di depan, tapi semua bisa menopang dari belakang. Dalam tasawuf, orang yang membantu jalan ilmu sering mendapat bagian barokah yang sama, meski namanya tidak disebut. Luka yang Wajar dalam Khidmah Guru tidak memaniskan kenyataan. Beliau jujur: “Khidmah kui melelahkan Kadang gak dipuji Kadang ora dianggep” Ini suara pengalaman, bukan teori. Khidmah memang sering menguras tenaga dan hati. Namun justru di titik inilah keikhlasan diuji. Jika masih butuh dipuji, berarti khidmah belum selesai mendidik nafsu. Khidmah Tidak Pernah Sia-sia Guru menutup dengan pesan yang sangat dalam: “Tapi khidmah ora pernah bakal sio2 Apa yg hari ini terasa rendah, bisa menjadi sebab kemuliaan dimasa depan…..” Ini adalah janji ruhani, bukan motivasi kosong. Banyak kemuliaan besar lahir dari pekerjaan yang dulu dianggap remeh. Dalam dunia pondok, khidmah adalah ijazah tak tertulis—yang nilainya baru terasa ketika waktu sudah berjalan jauh. Dan guru mengunci dengan kalimat yang sangat jujur: “gak percoyo yo gpp, wong dasare gak pernah urip nang pondok.” Ini bukan merendahkan, tapi penanda pengalaman. Ada ilmu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah menghidupinya. Penutup: Jalan Sunyi Para Pelayan Ungkapan ini bukan untuk orang yang ingin cepat diakui. Ini untuk mereka yang siap hilang demi makna. Siap lelah tanpa tepuk tangan. Siap rendah tanpa kehilangan harga diri. Karena dalam kaidah Allah: yang melayani dengan ikhlas, akan dilayani dengan kemuliaan—pada waktu dan cara-Nya sendiri. Semoga kita diberi kekuatan untuk khidmah tanpa banyak bicara, dan diberi hati yang ridlo meski tak dianggap. Aamiin.

02 Feb 2026 • Admin

Membaca Suara Hati Guru: Antara Tanggung Jawab dan Welas Asih

Dalam dunia tasawuf, dawuh seorang guru tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia muncul dari rasa tanggung jawab, dari beban amanah, dan dari welas asih yang dalam kepada murid-muridnya. Tiga status berikut bukan sekadar opini, melainkan teriakan batin seorang guru yang sedang menjaga sanad dan masa depan ruhani murid. Guru kami dawuh: “Nek terjadi bedo pendapat/pandangan antara Ayah Ruhani(Guru) garo Ayah Jasad ( wong tuo kandung), maka utamakan Ayah Ruhani ( Guru ). Gak sependapat yo gak opo2, gak duso pisan” Secara lahir, kalimat ini sering disalahpahami sebagai menafikan orang tua kandung. Namun secara hakikat tasawuf, ini adalah penegasan wilayah: ayah jasad menjaga lahir dan dunia, ayah ruhani menjaga iman, adab, dan akhirat. Guru tidak sedang mengajak durhaka, justru sebaliknya: menyelamatkan murid dari kebingungan batin ketika dua suara hadir bersamaan. Tidak sepakat bukan dosa, karena yang diuji bukan lisan, melainkan adab hati. Ridlo Guru: Kunci yang Tak Terlihat Guru melanjutkan: “Ridlo seorang Guru bukan sekedar restu, melainkan pembuka pintu keberkahan sing njamin kehidupan ndunyo akherat.” Kalimat ini lahir dari pengalaman panjang guru dalam membimbing murid. Ridlo guru bukan seremoni, bukan formalitas, tetapi kunci ruhani. Banyak murid rajin ibadah namun hidupnya kering, bukan karena kurang amal, melainkan karena terputus adabnya. Lalu guru mengungkapkan kekecewaan yang sangat halus namun dalam: “Lah kok ono murid dikandani Guru gak percoyo, malah percoyo marang omongane wong liyo…..iso dititeni……” Di sini tampak hati guru yang sedang perih, bukan marah. Guru melihat murid yang sudah diberi nasihat langsung, namun lebih percaya suara luar. Ini bukan soal benar-salah, tetapi soal siapa yang dijadikan sandaran batin. Ucapan yang Berat: Tanda Cinta dan Amanah Puncaknya, guru menulis: “Sampek2 Guru kok ngucap nek gak percoyo potongen jentiku……” Kalimat ini tidak boleh dibaca dengan logika biasa. Dalam tasawuf, ini adalah sumpah tanggung jawab, bukan emosi. Guru sedang berkata secara batin: “Aku mempertaruhkan diriku demi keselamatanmu.” Beliau sendiri menegaskan maknanya: “Iki tanda tanggungjawabe Guru nang murid tur tanda welase Guru nang murid……dadio murid sing gak endoz…..” Ini adalah pesan terakhir yang sangat dalam: jangan jadi murid yang keras kepala, jangan menutup diri dari bimbingan, jangan menukar sanad dengan suara yang tidak jelas asal-usulnya. Dan guru menutup dengan doa: “Mugo2 oleh curahan barokahe Guru Guru…..aamiin” Doa ini menunjukkan bahwa meski hati beliau berat, yang keluar tetap doa, bukan celaan. Inilah akhlak guru sejati. Penutup: Pesan Diam yang Keras Jika dibaca dengan hati seorang murid, tiga status ini menyampaikan satu pesan besar: Guru sedang menjaga muridnya, bahkan ketika murid belum tentu mau dijaga. Beliau menulis bukan untuk dimengerti semua orang, tetapi untuk murid yang masih punya adab. Bukan untuk diperdebatkan, tetapi untuk dititeni—direnungi, ditimbang dengan hati yang bersih. Semoga kami dijauhkan dari menjadi murid yang “endoz”, dan didekatkan kepada adab, ridlo, dan barokah para guru. Aamiin.

02 Feb 2026 • Admin

Datanglah kepada Guru, Ketika Hidup Menjadi Sumpek

Ada saatnya hidup terasa sumpek—bukan sekadar masalah lahir, tapi kegelisahan batin yang tak sanggup dituturkan kepada siapa pun. Pada titik itu, seorang murid tidak sedang membutuhkan nasihat ramai, melainkan hadirnya guru. Bukan untuk dihakimi, bukan untuk dipamerkan kesalehannya, tapi untuk ditenangkan ruhnya. Karena dalam jalan tasawuf, masalah bukan selalu untuk diceritakan, melainkan untuk dikembalikan ke asalnya. Guru kami pernah dawuh: “Kalau hidup kita merasa rupek atau ada masalah yang tidak bisa diceritakan ke orang. Maka cepat datanglah ke Guru.” Dawuh ini tidak berdiri di wilayah psikologi semata, tetapi masuk ke wilayah tarbiyah ruhaniyah. Guru bukan tempat curhat biasa, melainkan cermin batin, tempat ruh yang kusut diselaraskan kembali dengan sanadnya. Santri Bukan Milik Guru, Tapi Milik Sanad Dalam satu kesempatan, guru kami menegaskan dengan kalimat yang bagi orang awam terdengar keras, namun bagi murid justru penuh kasih sayang ruhani: “Njenengan kuabeh sing nang group iki, iku ora tak akoni dadi santriku.” Secara hakikat, ini bukan penolakan, melainkan pembebasan. Guru sedang memutus ketergantungan ego murid kepada figur lahir, agar murid tidak berhenti pada satu nama, satu sosok, atau satu majelis. Kemudian guru melanjutkan: “Njenengan kuabeh iku santrine Mbah Hasyim, Mbah Kholiq, Mbah Hakam, Habib Abdurohman bin Abdulloh bin Abdul Qodir Bil Faqih, Mbah Masruri Mughni Benda Sirsmpog, Mbah Ahmad bin Sa’id bin Armiya Pondok AtTauhidiyah Giren Tegal, Mbah Ghozin Bendo pare, Mbah Sa’dun pati, Gus Ali Blitar….dst…sampek ke atas. Aku iki mung coronge kyai-kyai,Mbah mbah, Gus Gus iku maeng.” Di sinilah letak hakikat tasawufnya. Seorang mursyid sejati tidak mengklaim murid, karena murid sejatinya adalah milik sanad, milik perjuangan para masyayikh yang panjang dan bersambung. Guru hanya corong—penyambung suara para wali, kyai, dan ulama yang telah lebih dahulu sampai. Ini adalah adab tinggi: guru tidak menaruh murid di bawah dirinya, tetapi mengangkat murid agar tersambung ke para pendahulu. Makna Hakikat: Merawat Sanad, Menghancurkan Ego Secara batin, dawuh ini mengajarkan bahwa: Guru bukan tujuan, tapi jalan Majelis bukan tempat bergantung, tapi tempat menyambung Santri sejati tidak merasa “punya guru”, melainkan punya tanggung jawab menjaga adab kepada seluruh sanad Maka ketika guru berkata “aku tidak mengakui kalian sebagai santriku”, justru di situlah murid diuji: apakah masih butuh pengakuan, atau sudah siap tunduk pada hakikat. Penutup: Adab Seorang Murid Sebagai murid, tidak pantas bagi kami menafsirkan dawuh guru dengan kepala kosong dan hati kotor. Yang pantas hanyalah menunduk, mengamalkan, dan menjaga adab. Jika hidup terasa rupek, datanglah ke guru. Jika ego terasa ingin diakui, ingatlah sanad. Jika ilmu terasa berat, luruskan niat. Karena guru sejati tidak menarik murid ke dirinya, tetapi mendorong murid kembali kepada Allah melalui jejak para kekasih-Nya.

26 Jan 2026 • Admin

Hikmah Mau Bengi: Nglakoni Amanate Guru

(Catatan ruhani seorang murid) Dalam laku sunyi mau bengi, saat badan menepi dan hati diajak menunduk, seorang murid belajar satu perkara penting: nglakoni amanate Guru bukan soal rame-rame amal, tapi soal jujur menghadapkan diri kepada Allah. Guru kami, KH. Masda Andi, dawuh dengan bahasa yang sederhana namun menghunjam ke dalam qolb. Dawuh ini bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk direnungkan—terutama oleh diri penulis sendiri yang masih belajar menata batin. “Gak ono SATU NAFAS PUN TERLEPAS TEKO AKU (ALLOH), melainkan di situ pula ada QODARKU yang berlaku untuk awak dewe.” Kalimat ini mengajarkan bahwa hidup bukan ruang kebetulan. Nafas, langkah, bahkan diam kita—semuanya berada dalam genggaman Qadar Allah. Maka laku ruhani bukan soal merasa mampu, tetapi sadar sepenuhnya bahwa kita ini lemah. Guru lalu mengingatkan dengan contoh yang sangat halus namun tegas: “👉 IBLIS KUWI BANGET ALIME iblis ahli Al-Qur’an… iblis ahli hadist… iblis ahli riwayat… iblis alim/pandai dalam segala ilmu…” Namun semua ilmu itu tidak menjadikannya kekasih Allah. Sebab di dalam dirinya tumbuh satu kalimat berbahaya: “AKU LEBIH BAIK DARI KAMU.” Di sinilah letak peringatan besar bagi para pencari jalan: ilmu tidak otomatis melahirkan ketaatan, dan banyak tahu tidak selalu berbuah tawadhu’. Guru tidak menunjuk siapa pun. Dawuh ini justru ditujukan agar setiap murid berani bercermin, bukan menunjuk keluar. “Yang aku takut…” Bukan takut pada orang lain, tetapi takut pada diri sendiri: Hati yang mengeras namun lihai menasihati. Merasa paling benar hingga merendahkan yang lain. Ego yang tinggi, lupa bahwa semua hanya titipan. Pandai berprasangka, tapi malas mengoreksi diri. Lidah lincah membuka aib orang lain, namun menutup mata pada aib sendiri. Hebat dalam berkata, lemah dalam berbuat. Cerdas mengkritik, namun malas bertobat. Membenci dosa orang lain, tapi memaklumi dosa sendiri. Sebagai murid, penulis memahami bahwa dawuh ini bukan untuk menilai siapa pun, melainkan sebagai peringatan halus agar kita tidak terjebak pada kesombongan spiritual—kesombongan yang sering tersembunyi di balik pakaian agama dan bahasa kebaikan. Penutup dawuh guru adalah doa, bukan vonis: “Kiranya Allah Subhana Wa Ta’alla senantiasa menyadarkan KITA SEMUA sehingga lebih rajin instrospeksi diri daripada mengurusi orang lain…” Inilah adab jalan ruhani: melihat ke dalam sebelum menilai ke luar. Membersihkan hati sebelum membenahi dunia. Sebagai murid yang masih banyak kurangnya, tulisan ini ditata semata-mata untuk menjaga amanah dawuh guru, bukan untuk mengaku paham hakikatnya. Bila ada kebaikan, itu datang dari Allah. Bila ada kekurangan, itu murni dari diri penulis. Salam welas asih. 🙏

22 Jan 2026 • Admin

Eling Sakdurunge Wektu Entek, Tangi Saderenge Dipanggil

Sebagai murid, kami menulis ini bukan untuk mengajari siapa pun, melainkan ngaturi eling diri pribadi, seraya nyuwun pangapunten bila pemahaman kami masih terbatas. Dawuh Guru tidak untuk diperdebatkan, melainkan diamalkan dan direnungi. Eling…..elingen iki….zaman wis akhir…waktu keroso cepet….. Karo dokter hewan wae mbutohno, Opo maneh karo dokter ati yo iku Guru Waskito. Karo sego ae olehe nggoleki sampek nteke dino, Mosok karo guru waskito di lalekno. Opo yo guno sehate rogo…… nek atine loro…??? Ilingooooo….. !!! Moloekat Izroil kui tekone ndadak ora kondo2… SIAP2O YO………. Lagi sak jam kepungkur nduwe ingkung sak ambenge, Saiki kari balung sak sampahe, ….wektu banget cepet mlesate…. Jarene ndunyo muter sesuai laku jantrane,…ojo sek Gumede naliko lagi iso lan Nduwe…..,mergo iso lan nduwe gak iso ngendek puteran Rodane. Tangi tangi leeee…..,mumpung Ruwah ojo lali ongkok sholawate …….. edisi Malam Jumat Kliwon…..AGHITSNII…..YA ROSULALLOH SARI’AN BI IDZATILLAH. Eling sebagai Peringatan, Bukan Hiasan Kata Dawuh “eling” yang disampaikan Guru bukanlah kalimat indah, melainkan peringatan keras yang lahir dari kasih sayang. Sebagai murid, kami memahami bahwa cepatnya waktu yang terasa di akhir zaman adalah teguran agar hati tidak lengah. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ mengingatkan bahwa lalai adalah awal dari kerasnya hati. Bila waktu terasa habis namun amal tak bertambah, maka itu tanda bahwa barakah sedang dicabut, dan ini hanya bisa disadari oleh orang yang mau eling. Guru Waskito: Nikmat yang Sering Tidak Disyukuri Opo maneh karo dokter ati yo iku Guru Waskito. Sebagai murid, kami sadar betul bahwa guru ruhani adalah nikmat besar, bahkan lebih besar daripada kesehatan jasad. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa orang yang tidak memiliki pembimbing akan mudah tertipu oleh amalnya sendiri. Ibnu ‘Arabi pun mengajarkan bahwa mursyid bukan pembuat jalan, melainkan penunjuk jalan yang telah dilalui dengan luka dan tangis. Maka melupakan guru bukan sekadar kelalaian adab, tetapi bahaya bagi keselamatan ruh. Sehat Jasad, Sakit Hati: Musibah yang Halus Opo yo guno sehate rogo…… nek atine loro…??? Sebagai murid, kalimat ini terasa menampar. Banyak dari kami sibuk menjaga raga, tetapi lupa membersihkan hati. Padahal menurut tasawuf, penyakit hati tidak terasa sakit, namun mematikan. Ibnu ‘Arabi menyebutnya sebagai hijab halus: seseorang tampak baik, ibadah berjalan, tetapi hatinya jauh dari Allah dan Rasul-Nya. Maut dan Kesiapan Diri Moloekat Izroil kui tekone ndadak ora kondo2… Guru mengingatkan bukan untuk menakut-nakuti, tetapi agar murid tidak menunda taubat. Sebab menurut Al-Ghazali, orang yang menunda taubat sejatinya sedang berjudi dengan ajalnya sendiri. Sebagai murid, kami hanya bisa menunduk dan bertanya pada diri: Sudah siapkah bila dipanggil hari ini? Dunia Berputar, Murid Jangan Gumede ojo sek Gumede naliko lagi iso lan Nduwe….. Ibnu ‘Arabi mengajarkan bahwa dunia adalah tajalli yang terus berubah, tidak layak dijadikan sandaran. Guru mengingatkan agar murid tidak gumede ketika diberi kemampuan dan kepemilikan, sebab itu semua titipan sementara. Hari ini di atas, besok bisa di bawah. Yang dibawa mati bukan “nduwe”, tetapi keadaan hati. Ruwah, Sholawat, dan Tangisan Murid Tangi tangi leeee…..,mumpung Ruwah ojo lali ongkok sholawate …….. Sebagai murid, kami memahami bahwa Ruwah adalah waktu untuk menata ulang batin, memperbanyak sholawat sebagai bentuk pengakuan bahwa kami tidak punya apa-apa selain bergantung kepada Rasulullah ﷺ. Dan puncaknya adalah jeritan hati: AGHITSNII…..YA ROSULALLOH SARI’AN BI IDZATILLAH. Ini bukan seruan berlebihan, melainkan pengakuan kelemahan murid, sebagaimana dijelaskan Ibnu ‘Arabi bahwa istighatsah adalah adab orang yang sadar dirinya fakir di hadapan Allah. Penutup: Murid yang Terus Belajar Eling Tulisan ini hanyalah catatan kecil murid yang sedang belajar eling, jauh dari sempurna. Bila ada kebenaran, itu dari dawuh Guru dan limpahan ilmu para ulama. Bila ada kekurangan, itu dari keterbatasan kami sebagai murid. Semoga kami tidak hanya pandai mengutip dawuh, tetapi mampu mengamalkannya, tidak hanya terharu, tetapi benar-benar berubah. Allahumma aghitsnaa, wa laa takilnaa ilaa anfusinaa tharfata ‘ain

21 Jan 2026 • Admin

Jalan Fana’ Para Arifin dalam Pesan KH. Masda Andi

Jalan Fana’ Para Arifin dalam Pesan KH. Masda Andi Di dalam dunia tasawuf, ukuran kedekatan seseorang kepada Allah tidak dinilai dari banyaknya wirid yang dibaca atau panjangnya doa yang dipanjatkan untuk dirinya sendiri, melainkan dari sejauh mana hatinya hidup untuk selain dirinya. Di sinilah pesan guru kita, KH. Masda Andi, berdiri sebagai dawuh yang lahir dari mata air ma‘rifat. “RAJIN RAJINLAH MENDOAKAN ORANG LAIN TERUTAMA SESAMA MUSLIM APALAGI SESAMA JAMAAH AL ASHKHABIYYAH……pesene Mbahe Mau Bengi👆” Pesan ini, jika dibedah secara hakikat, bukan sekadar etika sosial, melainkan latihan fana’ an-nafs—meleburkan ego dalam kasih ilahi. Doa sebagai Cermin Keadaan Hati Ibnu ‘Arabi dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah menyatakan: “Hati seorang hamba itu ibarat wadah. Apa yang paling sering ia limpahkan kepada makhluk, itulah yang memenuhi batinnya.” Maka orang yang ringan mendoakan orang lain sejatinya memiliki hati yang tidak penuh oleh dirinya sendiri. Inilah yang digambarkan dalam dawuh guru: “Akhlaqe Wali2ne Alloh kuwi seneng ndungakno wong liyo, sampek ra sempat ndungo kanggo awake dewe…..” Para wali telah sampai pada maqam di mana diri mereka telah diserahkan sepenuhnya kepada Allah, sehingga yang tersisa hanyalah kepedulian terhadap makhluk. Mereka yakin bahwa Allah lebih tahu kebutuhan mereka dibanding mereka sendiri. Imam Al-Ghazali menegaskan dalam Ihya’ ‘Ulumiddin: “Apabila seorang hamba telah jujur dalam tawakkalnya, maka ia tidak lagi sibuk memohon untuk dirinya, karena ia tahu Allah tidak akan melalaikannya.” Meniru Wali: Bukan Menjadi Wali Guru kita tidak membebani muridnya dengan tuntutan maqam tinggi, melainkan membuka pintu yang mungkin dimasuki siapa saja: “Tiruen akhlaqe waline Alloh najan gak iso sekabeyane niru….minimal siji tiru ‘ndungakno apik marang wong liyo’ …..sendiko Dawuh Mbah…..” Ini selaras dengan kaidah Junaid Al-Baghdadi: “Jalan ini tidak dicapai dengan klaim, tetapi dengan akhlak.” Tasawuf bukan tentang mengaku ahli, melainkan melatih hati agar lembut. Dan doa untuk orang lain adalah latihan paling aman, paling tersembunyi, dan paling ikhlas. Tidak Menghakimi: Maqam Orang yang Melihat Allah dalam Makhluk “Mereka tidak sibuk menghakimi, tidak ringan melaknat, dan tidak gemar membuka aib.” Ibnu ‘Arabi menyebut keadaan ini sebagai syuhud al-Haqq fi al-khalq—menyaksikan Allah dalam ciptaan-Nya. Orang yang masih mudah menghakimi sejatinya belum selesai dengan egonya sendiri. Ia berkata: “Barangsiapa melihat makhluk dengan mata dirinya, ia akan mencela. Barangsiapa melihat makhluk dengan mata Allah, ia akan mendoakan.” Maka para wali memilih satu sikap: “Yang mereka lakukan adalah mengangkat tangan dan menyerahkan urusan kepada Allah SWT.” Inilah puncak adab batin: diam dari reaksi, hidup dalam doa. Doa Tanpa Sepengetahuan: Amal Para Arwah yang Hidup Rasulullah ﷺ bersabda: “Doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa yang mustajab…” Dalam kacamata tasawuf, doa seperti ini adalah amal tanpa bayangan ego. Tidak ada harapan pujian, tidak ada pengakuan. Karena itu malaikat mengaminkan dan mengembalikannya kepada pendoa. Imam Ibn ‘Athaillah As-Sakandari berkata dalam Al-Hikam: “Amal yang paling selamat adalah amal yang tidak disadari oleh dirimu sendiri.” Ganjaran Wali Abdal: Bukan Status, Tapi Fungsi Ruhani “Nek ampeyan iso istiqomah ndungakno kanggo sesama muslim, sampeyan diganjar ganjarane Wali Abdal…..nggih Mbah….🙏” Wali Abdal bukanlah gelar kehormatan, melainkan fungsi batin: menjadi penyangga rahmat Allah di bumi. Orang yang istiqomah mendoakan sesama telah menjalankan fungsi ini, meski ia tidak dikenal siapa pun. Ibnu ‘Arabi menjelaskan: “Abdal adalah mereka yang mengganti keburukan dunia dengan doa, bukan dengan perlawanan.” Doa Orang Lain yang Menyelamatkan Kita “Karena bisa jadi doa yang menyelamatkan hidupmu bukan doa yang kau panjatkan untuk dirimu sendiri, tetapi doa yang kau panjatkan untuk saudaramu.” Inilah rahasia ilahi: keselamatan sering datang dari arah yang tidak kita sangka, karena Allah mencintai amal yang bersih dari kepentingan diri. Dan semua itu berpuncak pada doa agung untuk umat: “Allohummaghfir li ummati Sayyidina Muhammad…” (dan seterusnya) Doa ini adalah salah-satu nafas wirid dalam jamiyyah ashkhabiyyah, alhamdulillah doa ini diajarkan guru kami sebagai wirid setelah subuh, semoga dengan mengamalkan wirid doa tersebut menjadi salah-satu jalan riyadho jamaah aamiin—merangkul umat, bukan menyeleksi; mengobati, bukan menghakimi. “Mugi diparingi saget istiqomah…..aamiin” Aamiin. Semoga kita bukan hanya pembaca pesan wali, tetapi penjaga akhlaknya, dengan satu amalan yang sederhana namun dahsyat: mendoakan orang lain, diam-diam, terus-menerus, sampai Allah sendiri yang membela hidup kita.

14 Jan 2026 • Admin

Malam Penyambutan penutupan sementara Jam’iyah, Mengajak Hati untuk Diam

Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Jika malam ini engkau hadir, engkau akan merasakan bahwa langkahmu melambat sejak memasuki halaman. Tanah masih lembap. Hujan turun rintik-rintik—tidak deras—seolah langit pun menjaga suaranya agar tidak menutupi dzikir. Aroma bukhur menyambut lebih dulu daripada salam. Wangi itu tidak menusuk, tetapi pelan, merayap, lalu menetap di dada. Udara sejuk. Nafas terasa lebih panjang dari biasanya. Kami duduk sebagaimana murid duduk: tidak merasa datang untuk mengisi, tetapi untuk menerima. Lalu suara guru kami, KH Masda Andi, terdengar. Tidak meninggi, tidak pula tergesa. Hanya cukup untuk membuat hati diam. “Mugi-mugi Jumat Sabtu diparingi terang. Sak iki udan, nggih mboten napa-napa.” Kalimat itu jatuh perlahan, seperti hujan yang sedang turun. Tidak ada yang menimpali. Tidak ada yang merasa perlu bertanya. Dalam tasawuf, saat seperti ini bukan untuk dijelaskan, tetapi dirasakan. Wirid Dimulai: Nafas, Nama, dan Pengakuan Ketika wirid dimulai, engkau akan menyadari satu hal: tidak ada yang berlomba cepat. Tidak ada yang mengeraskan suara. Bismillāhirraḥmānirraḥīm dibaca 111 kali. Setiap lafadz terasa seperti mengetuk pintu batin sendiri. Seolah-olah kita diingatkan: jangan masuk sebelum mengetuk. Lalu Rabbighfir lī warḥamnī wa tub ‘alayya dibaca 70 kali. Pada bacaan ke sekian, engkau mungkin menunduk lebih dalam. Bukan karena lelah, tapi karena sadar: yang kita bawa ke majelis ini hanyalah butuh. Guru membuka dengan doa “Laqad jā`akum rasūlun…”. Nama Rasulullah ﷺ disebut. Dan anehnya, dada terasa lapang, seolah ada yang mengatur ulang letak hati. Kemudian Sholawat Jibril dilantunkan 100 kali. Jika engkau peka, pada hitungan-hitungannya yang akhir, suasana menjadi sunyi—bukan karena tidak ada suara, tetapi karena hati tidak ingin berbicara lagi. Isyarat Diam: Istirahat yang Bukan Berhenti Disampaikan bahwa rotib kalih Bulughul Marom sementara diistirahatkan. Tidak ada raut kecewa. Tidak ada gumam. Seorang murid tahu: yang diistirahatkan adalah bacaan, bukan hubungan. Lalu terdengar permintaan maaf kepada Ustadz Bahrul, dari guru kami. Pada saat itu, engkau akan merasakan sesuatu yang halus: jam’iyah ini dijaga dengan akhlak, bukan hanya wirid. Pagi Tadi: Tamu yang Menyisakan Rasa Guru menyebut tamu yang datang pagi tadi. Masih ada hubungan kalihMbah Rodiah disebut. Juga Gus Mik &Mbah Imam. Tidak panjang penjelasannya. Namun di ruang seperti ini, nama bukan sekadar nama. Ia membawa jejak, sanad, dan kisah yang tidak perlu diucapkan. Sebagian dari kami hanya saling pandang. Sebagian menunduk. Karena kami paham: tidak semua pertemuan dimaksudkan untuk diceritakan ulang. Foto tamu yang dimaksudkan Pesan Jumat Terakhir Rajab Engkau mendengar pesan tentang Jumat terakhir bulan Rajab. Tentang bacaan: أَحْمَدُ رَسُوْلُ اللهِ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ “Ahmad Rasulullah Muhammad Rasulullah” sebanyak 35 kali, saat khatib duduk di antara dua khutbah. Tidak terdengar janji berlebihan. Hanya disebut sebagai ikhtiar, sebagaimana diajarkan para ulama tasawuf. Di dapat guru kami dari habib abdurohman bil faqih malanh Lalu kisah sederhana tentang bawang merah dan Qul Huwa Allāhu Aḥad untuk sengatan hewan berbisa. Jika engkau perhatikan, pelajaran di sini bukan soal bawangnya, tetapi tentang tauhid yang turun ke urusan paling dekat dengan kehidupan.( didapat guru kami dari kyai sahal, kyai sahal sangking kyai abdussalam pati) Menjelang Akhir: Malam yang Menyambut Diam Hujan masih turun. Bukhur masih beraroma. Tidak ada tanda-tanda tergesa untuk pulang. Ini bukan malam penutupan. Ini adalah malam penyambutan— penyambutan bagi hati yang akan belajar berhenti tanpa meninggalkan, diam tanpa memutus, dan menepi tanpa merasa jauh. Jika engkau hadir malam ini, engkau pulang tanpa membawa banyak kata, tetapi dengan satu rasa yang tinggal lebih lama: tenang, dan cukup. Wallāhu a‘lam

Menampilkan halaman 1 dari 5 (Total 43 data)