WARTA & ARTIKEL DAKWAH

Kumpulan Tulisan, Berita Kegiatan & Catatan Ilmu

Menghimpun risalah hikmah, pengumuman jadwal istighosah, dan dokumentasi khidmah majlis Al-Ashkhabiyyah.

08 Jan 2026 • Admin

Menyambut Pagi, Menata Laku

Catatan Ruhani dari Sebuah Kultum Ada pagi-pagi tertentu yang rasanya tidak sekadar pagi. Bukan karena matahari lebih terang, tapi karena hati sedang disentuh oleh makna. Pagi ini saya membaca kembali satu kultum singkat dari guru. Kalimatnya sederhana, bahasanya ringan, namun ketika dibaca pelan-pelan, ia seperti menarik batin untuk berhenti sejenak dari kegaduhan rencana, target, dan bayangan masa depan. Teks Kultum (Asli) SELAMAT PAGI UNTUK SEMUA……… 🤣 MARI SAMBUT PAGI INI DENGAN PENUH BAHAGIA…. OJO LALI NGOPI “tunggak jarak mrajak, tunggak jati mati (banyak terjadi, keturunan orang kecil yang akhirnya menjadi orang besar. Dan sebaliknya, banyak keturunan orang besar yang justru tidak menjadi apa-apa. Dan dalam hubungannya dengan dunia pesantren, hal tersebut terjadi karena yang satu mau ngaji, dan satunya tidak)” Dari beberapa cerita yang saya dengar langsung dari Guru2, saya belajar bahwa nilai diri yang jujur tak perlu dicari, dia datang sendiri seiring laku pribadi. Kita tak perlu sibuk memoles diri demi mendapatkan penilaian orang lain. Karena derajat sejati adalah murni anugerah ilahi. Santri, harta, atau jabatan apapun adalah murni rezeki. Tak perlu bingung nanti akan menjadi apa atau siapa, mendapat apa??? mau bagaimana…? dst….., cukup seriusi setiap usaha yang menjadi tugas didepan mata. Jadikan mimpi dan cita-cita selayak kompas yang mengarahkan kemana langkah kaki, namun tak perlu risau dengan hasil akhir. Oleh karennya pasrahkan semua kegiatan kita ke Alloh di awal sebelum mulai dan pamitlah/nyuwun pangestu kepada Njeng Nabi…… Karena tugas kita hanya berusaha.. Sebagaimana kata pepatah: “Setiap hasil takkan menghianati usaha”. kesimpulan OJO MELOK2 NGGARIS TIWAS MENCENG KABEH. TETAP SEMANGAT MENYAMBUT ROHMAT ALLOH….. SEMOGA SELALU DIRIDLOI ALLOH DAN DAPAT PANGESTU NJENG NABI… SEMUA LANGKAH KITA PAGI INI… AAMIIN. Renungan Ruhani (Pemahaman Pribadi) Bagi saya, kalimat “tunggak jarak mrajak, tunggak jati mati” bukan sekadar pepatah sosial. Ia seperti cermin batin. Sering kali kita merasa hidup ini harus cepat “jadi”, harus terlihat berhasil, harus sesuai garis yang tampak di mata manusia. Padahal, dalam laku ruhani, yang menentukan hidup atau matinya seseorang bukan garis, bukan nasab, bukan kemudahan, melainkan kesediaan untuk terus tumbuh. Saya belajar bahwa nilai diri tidak lahir dari pengakuan, tapi dari kesetiaan pada laku yang sepi. Laku yang mungkin tidak dilihat siapa-siapa, namun dicatat oleh Allah. Kultum ini juga mengingatkan saya untuk tidak terlalu ribut memikirkan hasil akhir. Karena ketika batin terlalu menggenggam hasil, sering kali langkah justru menjadi berat. Pasrah di awal, berusaha di tengah, ridho di akhir. Di situlah saya merasa hidup menjadi lebih ringan. Dan mungkin itulah maksud terdalam dari kalimat: ojo melok-melok nggaris — jangan terlalu sibuk melihat jalan orang lain, hingga lupa menapaki jalan sendiri dengan benar.

05 Jan 2026 • Admin

Wirid Sunyi yang Menata Takdir Oleh KH masda andi

(Cerita KH Masda Andi di Group wa jamiyah Ashkhabiyyah) Seng Penting Rutin! mumpung kelingan….dasare lagi longgar gawean maklum ejih Januari…………….“napak tilas kehidupan 30 tahun yang lalu” Pada tahun 1996…… Masda sumpeke puol2an,…maklum tembe tamat sarjana,tamat mondok,mulih lolalolo alias plongaplongo….arep nyambut gae opo iki…..di tambah kerupekan liyone…wis pokoke puol mumete….😇😇😇 Koyok2 Muhal iso mberesi. Ndelalah kersane Allah Ta’ala Masda eling duwe Guru nang sokopuluhan Pati,paring asmo Mbah Yai Sa’dun sing tak kenal sejak tahun 1993…….. Akhire masda sowan, curhat rupeke urip ( waktu iku durung kenal Gus Ali ), nasibe Guru memang kanggo sambatan muride.🤣 Cerita ngalor ngidul dan achirnya masda diperintah wiridan . “ Cung, iki wae woconen. Tapi kudu ajeg “ Beliau diam dan diam. “ Siap. Nopo Yi “wiridane………….Alhamdulillah dan luar biasa estu. Kerumpekan terurai dengan sendirinya( bersambung, mbuh kapan nek eling…….) Alhamdulillah hasile yo koyo saiki iki….. Membaca cerita ini di awal tahun, terasa jelas bahwa suasana hati guru sedang longgar, lega, dan penuh syukur. Bukan suasana euforia, tapi ketenangan orang yang pernah kusut, pernah buntu, lalu dituntun pelan-pelan oleh rutin yang sederhana. Dari cerita ini saya menangkap satu kerangka berpikir yang sangat dalam namun sering disepelekan: Hidup itu tidak selalu menunggu solusi besar. Kadang justru mulai beres saat kita patuh pada satu amalan kecil yang dijalani terus-menerus. Guru hadir bukan untuk menghilangkan masalah, tapi memberi pegangan agar murid tidak tercerai-berai saat hidup terasa “plongaplongo”. Wirid bukan alat sulap, tapi latihan ajeg agar batin pelan-pelan tertata, sampai kerumitan “mbedah dhewe” tanpa kita sadar kapan mulainya. Hasil akhirnya bukan sekadar keberhasilan lahiriah, melainkan ketenangan menerima hidup seperti sekarang ini, sambil tetap ingat bahwa semua bermula dari rutin. Maka saya memahami kenapa guru menutup dengan kalimat: “Alhamdulillah hasile yo koyo saiki iki.” Bukan sombong, bukan pamer, tapi pengakuan jujur bahwa hidup yang sekarang adalah buah dari kesetiaan kecil yang dulu dijalani tanpa banyak paham. Dan barangkali, itulah pesan awal tahun yang paling halus: 👉 ojo ngoyak sing rame, sing penting ajeg.

05 Jan 2026 • Admin

Penutupan Sementara Jamiyah Ashkhabiyyah: Isyarah Berkumpulnya Sanad, Riyadlah, dan Barokah

Tidak semua penutupan adalah akhir. Dalam tradisi ruhani, ada penutupan yang justru menjadi pintu pembuka—pembuka pemahaman, pembuka adab, dan pembuka barokah yang lebih dalam. Penutupan sementara Jamiyah Ashkhabiyyah bukanlah peristiwa kosong makna. Ia hadir sebagai waqaf ruhani, jeda yang disengaja agar langkah tidak melenceng, agar niat kembali diluruskan, dan agar majelis tetap berdiri di atas sanad dan adab, bukan sekadar semangat berkumpul. Asbāb Keluarnya Tulisan Ini Tulisan ini keluar bukan karena kehendak pribadi, bukan pula karena keinginan menonjolkan siapa pun. Ia lahir sebagai respon batin atas apa yang disampaikan guru kami, KH. Masda Andi, pada pagi 5 Januari 2026—saat beliau menuliskan dan menjabarkan profil para masyayikh yang insya Allah rawuh dalam majelis penutupan sementara Jamiyah Ashkhabiyyah. Bagi yang terbiasa memandang majelis dengan kacamata lahiriah, penjabaran profil tersebut mungkin terlihat sebagai informasi biasa. Namun bagi yang menjaga adab batin, penjelasan itu adalah isyarah. Isyarah bahwa: Majelis ini tidak berdiri tanpa akar. Jamiyah ini tidak berjalan tanpa sanad. Dan penutupan ini tidak terjadi tanpa kehendak langit. Maka tulisan ini hadir sebagai upaya memahami isyarah itu, agar tidak berlalu begitu saja tanpa direnungi. Isyarah di Balik Berkumpulnya Para Masyayikh Para masyayikh yang telah mengonfirmasi kehadiran bukanlah figur sembarangan. Mereka adalah mata rantai hidup dari sanad keilmuan, riyadlah, dan khidmah umat. Gus Kamaluddin Ismail Al-Hafidz – PonPes Nur Muhammad Wonoayu Tengah(gus kamal) Beliau hadir sebagai pewaris pondok yang berdiri sejak tahun 1291 H, pondok yang usianya lebih tua dari banyak pondok besar di Nusantara. Sanad keluarganya bukan sekadar nasab, tetapi nasab amal: Qur’an yang dijaga dengan hafalan dan pengorbanan Riyadlah puasa bertahun-tahun Wirid istiqamah yang melahirkan umur panjang dan keberkahan hidup Dalam tradisi ruhani, umur panjang para ulama bukan tujuan, tetapi buah dari istiqamah dan pengabdian tanpa henti. KH. Sahal Musyaffa – PonPes Roudlotus Salam Gresik Kh sahal musyaffa Beliau adalah cermin ulama khidmah: nyentrik tapi lurus, sederhana tapi dalam. Santri dari Simbah Yai Sahal Mahfudz Pati dan Mbah Maimun Zubair—dua figur yang dikenal menjaga ilmu dengan adab dan riyadlah. Santri gratis, hidup bersama santri, bekerja bersama santri. Inilah pesan yang tidak diucapkan, tapi dihidupkan: bahwa ilmu tidak ditinggikan dengan jarak, melainkan dengan pengorbanan dan keteladanan. Simbah Hasan – Sidoarjo Kanan (mbah hasan) Beliau adalah pengingat bahwa jalur ruhani tidak selalu kasat mata. Sebagai murid Sunan Lawu secara ruhani, kehadiran beliau menegaskan bahwa: Ilmu tidak selalu diwariskan lewat bangku dan kitab Ada ilmu yang turun melalui adab, khidmah, dan kesungguhan batin Ini adalah warisan lama para wali Nusantara. Makna “Bertabur Bintang” yang Sesungguhnya Bertabur bintang bukan berarti ramai nama besar. Dalam pandangan ruhani, bertabur bintang berarti: Berkumpulnya penjaga sanad Berkumpulnya pelaku riyadlah Berkumpulnya ulama yang hidup untuk umat, bukan dari umat Ketika orang-orang seperti ini rawuh dalam sebuah majelis penutupan, itu adalah isyarah kuat bahwa Jamiyah Ashkhabiyyah sedang dijaga—bukan hanya dari arah lahir, tetapi dari arah batin. Penutupan yang Menjadi Doa Maka penutupan sementara ini tidak kita pahami sebagai berhenti, tetapi sebagai: Penguatan niat Penjernihan arah Pengembalian jamiyah pada ruh awalnya: adab, dzikir, sanad, dan khidmah Semoga Allah menurunkan manfaat melalui kehadiran mereka, melalui doa-doa yang tidak terdengar, dan melalui barokah yang tidak selalu tampak. Nafa‘anallāhu bihim wa bi ‘ulumihim wa bi barokātihim. Aamiin.

04 Jan 2026 • Admin

Seribu satu jurus, sanad tetap lurus “Sang Kyai Dana Talangan”

Malam itu, angin di halaman majlis terasa biasa saja. Tidak ada tanda-tanda acara besar, tidak pula hiruk pikuk persiapan. Hanya tikar, termos teh, dan beberapa wajah jamaah yang sudah saling hafal satu sama lain. Rapat penutupan sementara Majlis Ashkhabiyyah baru saja dimulai. Mas Didit, selaku ketua panitia penutupan sementara, membuka catatan kecilnya. Suaranya pelan tapi tegas. “Ini laporan terakhir. Dana kas tersisa sekian…,” ia berhenti sejenak, menatap angka di kertas. “Kalau untuk konsumsi dan operasional penutupan minggu depan, masih kurang.” Beberapa jamaah saling pandang. Tidak panik, tapi juga tidak kaget. Situasi seperti ini bukan hal baru. Mas Sony langsung menyender, tersenyum sambil mengangkat alis. “Tenang wae, Mas… ana Gusse. Lak kurang, mesti ditambal,” celetuknya, disambut tawa kecil. Mas Agus ikut menimpali, “Wis langganan iki. Dana majlis minus, sing deg-degan dudu jamaah.” Semua tertawa. Semua kecuali satu orang. KH Masda Andi—yang oleh jamaah sering dipanggil Gus Da—hanya tersenyum tipis. Tangannya tetap di dalam saku bajunya. Tidak ikut tertawa, tapi juga tidak terlihat keberatan. Ia membuka suara dengan nada datar. “Ya dicukupkan saja. Yang penting acaranya jalan, jamaah khusyuk, dan adab tetap dijaga.” Mas Didit mengangguk. Ia tahu betul maksud kalimat itu. Tanpa diumumkan, tanpa dicatat di papan laporan, dana itu akan kembali “dicukupkan”. Seperti biasa. Julukan itu—“kyai dana talangan”—tidak pernah datang dari mimbar. Ia lahir dari kebiasaan yang berulang. Saat ziarah, ketika bus belum lunas. Saat acara internal, ketika konsumsi mendadak bertambah. Bahkan ketika kas benar-benar nol, majlis tetap berjalan. Dan yang paling sering heran justru jamaah baru. “Kasnya dari mana, Gus?” tanya salah satu dari mereka suatu hari. Gusse hanya menjawab singkat, “Ndak usah dipikir. Fokus amaliyah.” Namun ada satu hal yang tak pernah beliau longgarkan: sanad amaliah. Dalam hal dana, beliau longgar. Tapi ketika menyangkut wirid, ijazah, atau bacaan yang dibagikan ke jamaah, sikapnya berubah total. Setiap lafadz ditelusuri, setiap amalan dijaga jalurnya. “Amal itu bukan soal banyak atau ramai,” katanya suatu malam, “tapi soal dari siapa kita menerima dan ke mana kita menyambung.” Mas Sony pernah bercanda, “Gus, duit njenengan entek ora popo, tapi sanad ora iso kurang siji wae.” Gusse tersenyum. “Kalau duit, insyaAllah bisa dicari. Tapi kalau sanad rusak, yang repot bukan aku—jamaah semua.” Rapat malam itu pun ditutup tanpa keputusan rumit. Tidak ada penggalangan dana mendadak. Tidak ada tekanan. Jamaah pulang dengan tenang. Mas Agus berbisik sambil membersikah bekas puntung rokok, “Majlis iki unik yo. Danane sering seret, tapi jalannya alus.” Mas Didit menghela napas pelan. “Alus karena ada yang diam-diam nahan beban.” Di sudut ruangan, Gusse berdiri, memasukkan kembali catatan ke dalam sakunya. Tak ada pengumuman. Tak ada laporan. Hanya satu kebiasaan yang terus berjalan: Majlis tetap hidup, jamaah tetap tenang, dan dana—entah bagaimana—selalu “ketambal”.

04 Jan 2026 • Admin

Mengulas kembali dawuh kyai ali ashkhabi

Sabtu, 23 Agustus 2025 Kediaman Guru KH. Masda Andi Majelis Jamaah Ashkhabiyyah Ringkasan Majelis Pada Sabtu, 23 Agustus 2025, jamaah Ashkhabiyyah mengikuti majelis ilmu dan mau‘idhah ruhaniyah bersama Kyai Ali Ashkhab di kediaman Guru KH. Masda Andi. Majelis berlangsung dengan khidmat dan penuh adab, membahas perjalanan ruhani seorang hamba dalam bingkai syariat, thariqah, haqiqat, dan ma‘rifat. Dawuh Kyai Ali Ashkhab Dalam penyampaiannya, Kyai Ali Ashkhab mendawuhkan: “Syariat, thoriqoh, hakikat dan makrifat bagaikan bahan makanan, memasak hidangan, hidangan makanan siap disajikan, dan rasa makanan. Tetapi bagaimana kita menyiapkan bahan, cara memasak bahan, cara menghidangkan, dan rasa akan hidangan.” Dawuh ini disampaikan sebagai pengingat bahwa perjalanan ruhani tidak cukup dipahami secara istilah, tetapi harus dijalani dengan benar, tertib, dan beradab. Makna Dawuh (Ringkas) Syariat Diibaratkan sebagai bahan makanan. Ia adalah dasar yang harus ada dan benar: ibadah, adab, serta menjaga halal dan haram. Thariqah Diibaratkan sebagai cara memasak bahan. Proses ini memerlukan bimbingan guru, istiqamah, dan kesabaran agar tidak menyimpang. Haqiqat Diibaratkan sebagai hidangan yang telah matang. Amal ibadah mulai menghadirkan kesadaran dan makna. Ma‘rifat Diibaratkan sebagai rasa dari hidangan. Tidak tampak dan tidak dipamerkan, tetapi terasa manfaatnya dan tercermin dalam akhlak. Hikmah Majelis Majelis ini menegaskan bahwa: tidak benar berbicara rasa tanpa menjaga syariat, dan tidak cukup menjaga lahir tanpa memperbaiki batin. Jalan yang lurus adalah menyatukan syariat, thariqah, haqiqat, dan ma‘rifat dalam satu perjalanan yang seimbang dan penuh adab. Penutup Semoga dawuh Kyai Ali Ashkhab menjadi wasilah kebaikan, memperkuat istiqamah jamaah Ashkhabiyyah, dan membawa keberkahan bagi siapa pun yang membaca serta mengamalkannya.

02 Jan 2026 • Admin

Diskusi Takdir, Ikhtiar, dan Amalan Orang Tua–Anak

Pengajian bersama Gus Nafi & Ustadz Restu Pengantar Diskusi ini membahas persoalan takdir yang sering membingungkan umat: apakah takdir bisa berubah, bagaimana posisi amal dan doa, serta bagaimana memahami tradisi membaca Surat Yusuf dan Maryam pada usia kandungan empat bulan. I. Takdir dan Perubahan Usia (Ajal) 1. Kisah Nabi Khidir dan Anak Kecil Gus Nafi mengangkat kisah Nabi Khidir ‘alaihis-salam yang membunuh seorang anak kecil. Ketika Nabi Musa bertanya alasan perbuatan tersebut, Nabi Khidir menjelaskan: Anak itu kelak akan tumbuh menjadi penyebab kesesatan dan penderitaan bagi orang tuanya. Ini menunjukkan bahwa: Usia dan ajal secara lahir bisa tampak berubah, Namun perubahan itu tetap berada dalam kehendak dan ilmu Allah. 👉 Dari sisi manusia, tampak seperti “berubah”, 👉 Dari sisi Allah, semuanya sudah dalam ketetapan-Nya. II. Nasib Surga dan Neraka: Takdir atau Amal? Gus Nafi melanjutkan: Ada manusia yang semasa hidup tampak seperti ahli surga, namun di akhir hayat beramal seperti ahli neraka. Ada pula yang lahiriah tampak buruk, tetapi ditutup dengan husnul khatimah. Kisah Abdul Aziz Ad-Dabbagh Diceritakan ada seorang wali bernama Abdul Aziz Ad-Dabbagh yang diberi tahu oleh wali lain: “Engkau dicatat sebagai ahli neraka.” Jawaban beliau: “Aku tidak peduli. Yang penting aku tetap beribadah kepada Allah.” Karena keikhlasan ibadah tanpa pamrih terhadap takdir, catatan tersebut berubah. III. Penjelasan Ustadz Restu: Takdir dan Hakikatnya Ustadz Restu menjelaskan berdasarkan Kitab Daqā’iq al-Akbar: Ada wali yang secara zahir ditulis ahli neraka, namun tetap beribadah, hingga Allah mengubah takdirnya. Kesimpulannya: Hakikat takdir Allah tidak bertentangan dengan kehendak dan usaha hamba. Menurut Ustadz Restu: Bisa jadi hakikat asli takdir wali tersebut memang ahli jannah, hanya saja ditampakkan prosesnya sebagai ujian. IV. Membaca Surat Yusuf & Maryam di Bulan Keempat Kandungan Pertanyaan Gus Nafi Jika yang berkewajiban mendidik dan beramal adalah orang tua: Mengapa membaca Surat Yusuf dan Maryam justru mengundang orang lain? Jawaban Ustadz Restu Ustadz Restu menegaskan: “Saget.” (Boleh) Alasannya: Tidak ada larangan berdoa bersama Amalan baik dengan niat baik adalah menambah kebaikan Mengundang orang lain bukan menggugurkan kewajiban orang tua, tetapi ikhtiar memperbanyak doa V. Pandangan Aqidah: Qadha dan Qadar Pendapat Guru KH Masda Andi yang dikutip: Rukun Iman ke-6: Qadha dan Qadar Ini rukun iman yang paling sulit dipahami. Qadha: ketetapan Allah → berkaitan dengan sabar Qadar: ukuran/takaran → berkaitan dengan doa dan ikhtiar Allah: Tidak dibatasi oleh ketetapan-Nya sendiri Allah berkuasa menetapkan dan mengubah sesuai hikmah-Nya Candaan reflektif beliau: “Kalau qadha tidak bisa diapa-apakan, ngapain sampeyan berobat ke dokter kalau sakit?” Artinya: Ikhtiar adalah bagian dari iman, bukan lawannya takdir. VI. Amal Anak untuk Orang Tua & Fidyah Ditekankan kembali hadis: “Apabila manusia meninggal, terputus amalnya kecuali tiga perkara…” Jika ingin menjadi anak shalih: Boleh melakukan fidyah Boleh menyuruh orang lain berdoa Yang utama adalah kesungguhan hati anak dan orang tua Undangan orang lain bukan pengganti amal, tetapi penguat niat dan kebersamaan dalam kebaikan. VII. Kerangka Berpikir Utama (Ringkas & Padat) Takdir Allah itu pasti, tapi jalan menuju takdir melibatkan ikhtiar Qadha → sabar, Qadar → doa & usaha Allah tidak terikat oleh ketetapan-Nya Amal ikhlas bisa menjadi sebab perubahan nasib Tradisi baik yang tidak bertentangan dengan syariat adalah sah Yang dinilai Allah bukan ramai-ramainya, tapi niat dan kesungguhan Penutup Reflektif Diskusi ini mengajarkan keseimbangan: Tidak pasrah buta pada takdir Tidak sombong dengan amal Tetap beribadah meski tidak tahu nasib Berdoa dan berikhtiar karena itulah adab hamba Takdir adalah rahasia Allah, tetapi amal adalah tanggung jawab manusia.

02 Jan 2026 • Admin

Peniupan Ruh dan Konsekuensi Fikih oleh ust restu

Kajian berfokus pada hadis riwayat Abdullāh bin Mas‘ūd raḍiyallāhu ‘anhu, di mana Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nutfah, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula…” Ustadz Restu menjelaskan bahwa penggunaan kata “inna” dalam hadis tersebut merupakan bentuk penegasan kuat, yang menunjukkan bahwa peristiwa ini benar-benar terjadi, bukan sekadar kiasan atau perumpamaan. Tahapan Penciptaan dalam Kandungan Hadis ini menjelaskan secara rinci tahapan penciptaan manusia: 40 hari pertama: Nutfah (air mani) 40 hari kedua: ‘Alaqah (segumpal darah) 40 hari ketiga: Muḍghah (segumpal daging) Ustadz Restu menekankan bahwa pada masa Rasulullah, ilmu kedokteran modern belum berkembang. Namun saat ini, penelitian ilmiah justru membuktikan kebenaran tahapan penciptaan tersebut, sebagaimana yang disampaikan dalam hadis. Peniupan Ruh dan Penetapan Takdir Setelah usia kandungan mencapai empat bulan (120 hari), Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh ke dalam janin. Pada saat itu pula, malaikat diperintahkan untuk menuliskan empat perkara penting, yaitu: Rizki Ajal (umur) Amal perbuatan Nasib (bahagia atau celaka) Ustadz Restu menyampaikan bahwa hadis ini tergolong hadis istimewa, karena mencakup perjalanan manusia sejak awal penciptaan hingga takdir kehidupannya di dunia dan akhirat. Pandangan Fiqih tentang Kandungan Dalam perspektif ilmu fiqih, Ustadz Restu menjelaskan bahwa: Apabila janin belum ditiup ruh dan terdapat indikasi medis tertentu, maka sebagian ulama membolehkan pengguguran dalam kondisi tertentu. Namun setelah ruh ditiup, hukum menggugurkan kandungan menjadi haram secara mutlak, kecuali dalam keadaan darurat yang sangat terbatas. Konsep Takdir: Mubram dan Mu‘allaq Ustadz Restu juga menjelaskan pembagian takdir dalam Islam: Takdir Mubram Takdir yang tidak dapat diubah, seperti ajal. Takdir Mu‘allaq Takdir yang dapat berubah dengan ikhtiar, doa, dan amal, seperti rizki. Pemahaman ini mengajarkan keseimbangan antara tawakal kepada Allah dan usaha manusia. Pentingnya Akhir Kehidupan (Husnul Khatimah) Dalam lanjutan hadis disebutkan bahwa: Ada orang yang sepanjang hidupnya beramal seperti ahli surga, namun di akhir hayatnya beramal seperti ahli neraka. Sebaliknya, ada orang yang tampak seperti ahli neraka, namun di akhir hidupnya justru berakhir sebagai ahli surga. Hal ini menjadi pengingat bahwa penilaian akhir berada pada penutup kehidupan, sehingga setiap muslim hendaknya terus memperbaiki diri dan memohon husnul khatimah. Doa untuk Keluarga Bapak Agung Di akhir pengajian, Ustadz Restu memanjatkan doa: Semoga seluruh hajat keluarga Bapak Agung dikabulkan oleh Allah Semoga jabāng bayi yang dikandung: Menjadi anak yang shalih atau shalihah Diberi takdir yang baik dan penuh keberkahan Hadis Penutup tentang Doa Mustajab Sebagai penutup, Ustadz Restu menyampaikan hadis dari Kitab As-Ṣiyām: “Ada tiga doa yang tidak akan ditolak: doa orang tua untuk anaknya, doa orang yang sedang berpuasa, dan doa orang yang sedang dalam perjalanan (musafir).” Hadis ini sangat relevan dengan momen walīmatul ḥaml, karena menjadi pengingat akan besarnya kekuatan doa orang tua bagi anaknya sejak dalam kandungan. Penutup Semoga kajian ini menambah keimanan, memperkuat keyakinan akan takdir Allah, serta menjadi wasilah keberkahan bagi keluarga yang sedang menantikan kelahiran buah hati. Wallāhu a‘lam bish-ṣawāb

02 Jan 2026 • Admin

Perkembangan teknologi Ai dan adab ilmu oleh KH masda andi

Jumat siang itu, salah satu jamaah membagikan sebuah video AI berisi doa sholawat ummi. Secara makna, pesan yang disampaikan memang baik. Namun pelafalan yang dihasilkan oleh AI terdengar kurang tepat, terutama pada makhārijul ḥurūf. Hal tersebut langsung mendapat perhatian dan teguran dari guru kami. Teguran yang bukan sekadar kritik teknis, tetapi peringatan serius tentang bahaya spiritual jika hal seperti ini diviralkan dan diamalkan tanpa ilmu. Guru kami dawuh: “ucapan gak bener ojo di viralno bahaya, mergo goegle gak pernah belajar makhorijul huruf, iku nek diamalno wong awam ucapane ngunu iso ngrusak akidah, bahayyyyya……iso gak di akui ummate Njeng Nabi” Teguran itu menohok, bukan untuk menjatuhkan teknologi, tetapi untuk menjaga kemurnian adab dalam beragama. Karena dalam Islam, lafal bukan sekadar bunyi, melainkan amanah makna dan aqidah. Kemudian beliau menutup dengan doa dan dawuh yang sangat dalam maknanya: “MENUNGSO MEMANG AKEH RENCANANE TAPI SAYANG KURANGAN DANA TERUS OPO ARTINE AKEH RENCANANE TAPI GAK DUWE DANA BECIKLAH GAK DUWE RENCANA TAPI DANA NE TURAH2…. ALLOHUMMA YA ROBBANA CUKUPONO,LUBERONO LAA ILAHA ILLALLOH MUHAMMADUR ROSULULLOH.” (Refleksi Pribadi) 1. AI Tidak Punya Sanad AI belajar dari data, bukan dari guru. Ia mengenal teks, tetapi tidak mengenal adab, tidak punya sanad keilmuan, dan tidak pernah duduk di hadapan mursyid untuk belajar makhraj, sifat huruf, atau ruh sebuah doa. Dalam perkara doa dan sholawat, kesalahan satu huruf bisa menggeser makna, bahkan berpotensi merusak aqidah jika diamalkan terus-menerus oleh orang awam. 2. Masalahnya Bukan Teknologi, Tapi Viral Tanpa Ilmu Guru tidak melarang teknologi secara mutlak. Yang beliau ingatkan adalah “ojo di viralno” — jangan diviralkan sesuatu yang belum benar secara ilmu. Karena viral itu punya daya rusak: Orang awam mengamalkan tanpa tahu Salah ucap dianggap biasa Lama-lama yang salah terasa benar 3. Agama Ini Dijaga dengan Lisan yang Benar Islam bukan hanya niat baik, tetapi juga ucapan yang lurus. Makhorijul huruf adalah bagian dari amanah risalah Nabi ﷺ. Jika lisan rusak, dzikir rusak. Jika dzikir rusak, rasa rusak. Jika rasa rusak, arah hidup ikut rusak. 4. Penutup Guru: Tentang Rencana dan Kecukupan Dawuh terakhir guru sebenarnya menampar kesombongan manusia modern: Banyak rencana Banyak konsep Banyak teknologi tapi lupa cukup dan luber dari Allah Lebih baik: sedikit rencana tapi ditopang kecukupan dari Allah daripada banyak rencana tapi kosong dari pertolongan-Nya Doa beliau bukan sekadar ekonomi, tapi tauhid ketergantungan: cukupono, luberono cukupkan iman kami, limpahkan berkah-Mu dalam naungan LAA ILAHA ILLALLOH MUHAMMADUR ROSULULLOH Penutup Tulisan ini bukan untuk menolak zaman, tetapi untuk menjaga adab di tengah kemajuan. Karena tidak semua yang canggih itu selamat, dan tidak semua yang viral itu benar. Ilmu tetap harus bersanad. Dzikir tetap harus beradab. Dan lisan tetap harus dijaga.

02 Jan 2026 • Admin

Jum’at Awal Kalender Rutinan 2026

Tentang Islam, Persaudaraan, dan Ujian Jalan Batin Jum’at sering dipahami sebagai hari mulia. Namun lebih dari itu, Jum’at adalah penanda komitmen. Di awal kalender rutinan tahun 2026, pesan guru kami, KH. Masda Andi, hadir sebagai pengingat arah: bahwa kebesaran Islam tidak lahir dari kesalehan yang terputus dari kemanusiaan, dan bahwa perjalanan ruhani bukan panggung untuk merasa lebih suci. Beliau dawuh: “Islam iso gede ora sebab poso dalail terus, qiyamul lail terus. Ngono iku ora nguntungke Islam blassss, paling banter awak dewe terkenal wali ae….😆😆😆🤣🫢🥹. Tapi sing nguntungke Islam iku ketika hati kita berkomitmen untuk menjalin kesinambungan persaudaraan/ashkhabiyyah sesama Muslim mbuh alim, mbuh preman,mbuh pedotan,mbuh penduso kuabeh kudu di konconi nggih..ojo pilih pilih…..bukan hanya sesama anggota jam’iyyah tok. eling elingen iki Pendaftaran wali Allah saiki sepi🤣🫢, mergo menungso saiki sibuk mencari cintanya makhluk. dudu cinta Tuhannya” Kutipan ini menampar kesadaran kita: Islam tidak tumbuh besar hanya karena banyaknya orang yang rajin riyadlah pribadi. Islam tumbuh ketika hati-hati kaum Muslim saling terhubung, saling menguatkan, saling menanggung, tanpa syarat status moral, kelompok, atau citra kesalehan. Ashkhabiyyah—persaudaraan sejati—tidak memilih-milih. Bukan hanya sesama jamaah, bukan hanya yang tampak alim, tapi semua yang masih bersyahadat: yang jatuh, yang salah, yang belum sampai, tetap harus dirangkul. Lalu beliau melanjutkan dengan peringatan yang jauh lebih dalam, khusus bagi para penempuh jalan batin: “Maka….Wahai Saudaraku/ashkhabiii penempuh jalan rahasia, Ketahuilah, terbukanya telinga batin (kasyaf) adalah ujian amanah, bukan lencana kemuliaan. Barangsiapa yang Allah izinkan mendengar kabar yang jauh, maka wajib baginya memiliki hati seluas lautan untuk mengubur aib sesama, bukan menyebarkannya. Jangan sampai keasyikane awak dewe mendengar suara makhluk membuat hatine awak dewe tuli dari panggilan Tuhanmu. Jika awak dewe mendengar pujian, takutlah pada Istidraj. Jika awk deweu mendengar rahasia buruk, tutuplah dengan Doa. Ingatlah satu kaidah ini: “Carilah Sang Pemilik Suara (Allah), jangan terhenti hanya pada suara-Nya.” Ini adalah kaidah besar dalam tasawuf: kasyaf bukan tujuan, tapi cobaan. Mendengar yang tidak didengar orang lain bukan tanda kemuliaan, melainkan beban amanah. Semakin terbuka batin seseorang, semakin besar kewajibannya untuk: menutup aib, bukan membuka, berdoa, bukan menghakimi, takut pada istidraj ketika dipuji, dan semakin rendah hati dalam diam. Bahaya terbesar bagi penempuh jalan rahasia bukan maksiat lahir, tapi terhenti pada pengalaman, sibuk dengan suara, isyarat, atau bisikan, hingga lupa mencari Pemilik Suara itu sendiri. Karena itu, pesan ini sejatinya bukan hanya untuk para salik, tapi untuk siapa pun yang mengaku berjalan menuju Allah: jangan sampai kesibukan spiritual justru membuat kita tuli terhadap panggilan Tuhan yang paling dasar—yaitu menjaga hati, persaudaraan, dan adab. Semoga Jum’at ini, dan kalender rutinan yang kita mulai di tahun 2026, bukan hanya mencatat amalan, tapi juga memperbaiki arah. Wallahu a‘lam.

Menampilkan halaman 11 dari 17 (Total 152 data)