WARTA & ARTIKEL DAKWAH

Kumpulan Tulisan, Berita Kegiatan & Catatan Ilmu

Menghimpun risalah hikmah, pengumuman jadwal istighosah, dan dokumentasi khidmah majlis Al-Ashkhabiyyah.

23 Jan 2026 • Admin

RISALAH SINGKAT TENTANG ALAM KUBUR, RUH, DAN PERJALANAN PULANG (pembukaan)

Catatan Majelis KH. Masda Andi Kediaman Bapak Zainal Abidin, Bendet – 22 Januari 2026 Muqaddimah Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Risalah ini ditulis sebagai catatan ruhani seorang murid, dari apa yang disampaikan guru dalam sebuah majelis sederhana, namun sarat makna. Tulisan ini bukan fatwa, bukan pula klaim kebenaran pribadi, melainkan upaya menjaga jejak dawuh agar tidak hilang ditelan waktu. Semoga Allah memberi manfaat, menghidupkan rasa takut dan harap, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang diringankan di alam kubur. Āmīn. **Bab I Alam Kubur: Persinggahan Pertama Menuju Akhirat** Guru membuka majelis dengan mengingatkan satu hakikat besar: alam kubur adalah persinggahan pertama dari perjalanan akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda: القَبْرُ أَوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الآخِرَةِ Al-qobru awwalu manzilin min manāzilil ākhirah. Artinya: Kubur adalah persinggahan pertama dari persinggahan-persinggahan akhirat. (HR. at-Tirmidzi) Dari Nabi Adam ‘alaihis salām sampai manusia terakhir, seluruh ahli kubur sedang menunggu. Yang sedang disiksa, ya disiksa. Yang sedang menikmati, ya menikmati. Alam kubur bukan alam diam, tetapi alam aktif—tempat balasan awal. Guru menegaskan satu kaidah penting: Barang siapa diringankan di alam kubur, maka terminal-terminal berikutnya akan dimudahkan. Barang siapa diberatkan di alam kubur, maka terminal berikutnya hampir pasti berat. **Bab II Sakratul Maut: Antara Siksa dan Rahmat** Setiap yang bernyawa akan menghadapi sakratul maut. Namun sakratul maut tidak selalu sama bagi setiap orang. Allah berfirman: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ Kullu nafsin dzā’iqotul maut. (QS. Āli ‘Imrān: 185) Guru menjelaskan: Sakratul maut bisa menjadi siksa, bisa pula menjadi rahmat. Semua tergantung: bagaimana seseorang menjalani hidup, kepada siapa ia bergantung, dan dalam keadaan apa ia dipanggil pulang. Pesan guru yang sangat menenangkan: “Ojo susah, ojo putus asa teko rahmate Allah.” Ini sejalan dengan firman Allah: وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ Wa lā tay’asū min rawḥillāh. (QS. Yūsuf: 87) Putus asa adalah hijab terbesar menjelang kematian. **Bab III Empat Golongan Manusia Menurut Ulama** Guru menyampaikan pembagian manusia (dinukil dari para ulama, di antaranya Imam al-Ghazali): Sa‘īdun fid-dunyā wa sa‘īdun fil-ākhirah Bahagia di dunia, bahagia di akhirat. Syaqiyyun fid-dunyā wa sa‘īdun fil-ākhirah Susah di dunia, bahagia di akhirat. Di sinilah guru menyampaikan kisah pribadinya: “Kulo sepuluh tahun pengantin anyar nang Palembang. Paling susah kulo sak dunyo. Pengantin anyar, mboten gadhah kasur.”Kesempitan lahir, namun keluasan batin. Sa‘īdun fid-dunyā wa syaqiyyun fil-ākhirah Senang dunia, celaka akhirat. Syaqiyyun fid-dunyā wa syaqiyyun fil-ākhirah Sengsara dunia, sengsara akhirat. Guru berpesan agar kita tidak keluar dari rel yang sudah Allah tentukan, dan semoga termasuk golongan yang Allah beri husnul khatimah. **Bab IV Doa Orang Hidup dan Keringanan Ahli Kubur** Ahli kubur sangat menunggu kiriman doa. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa: اللَّهُمَّ لَا تُعَذِّبْهُمْ بَعْدَ هَذَا Allāhumma lā tu‘adzdzibhum ba‘da hādzā. Dalam penjelasan para guru, doa, ziarah, bacaan Al-Qur’an, dan shadaqah dari orang hidup bisa menjadi sebab berhentinya siksa kubur. Guru berpesan dengan nada sangat halus: “Yen ora sempat ngirimi dungo, ojo nganti gawe dosa sing nambah siksa poro ahli kuburmu.” Dan diulang berkali-kali: ojo bosen-bosen kirim dungo marang ahli kubur, ojo nganti lali. **Bab V Ruh, Jiwa, dan Rahasia Kehidupan** Allah berfirman: وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي Wa nafakhtu fīhi min rūḥī. (QS. al-Ḥijr: 29) Sebelum jasad turun ke dunia, Allah mengambil kesaksian: أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ شَهِدْنَا Alastu birabbikum, qālū balā, syahidnā. (QS. al-A‘rāf: 172) Perbedaan Ruh dan Jiwa Guru menjelaskan secara tasawuf: Ruh berasal dari ‘alam amr, kembali kepada Allah. Jiwa (nafs/sukma) adalah pengikat kehidupan jasmani. Yang kembali kepada Allah adalah ruh, bukan nafs. Tubuh ini disebut ruh al-jismanī, yang menghidupkan disebut ruh al-khayātī. Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani rahimahullah menjelaskan bahwa ruh jasmani berada antara daging dan darah. Ada pula Rūḥ al-Qudus / Rūḥ Rabbānī, yang ketika kembali, perjalanannya sangat berat kecuali bagi orang-orang yang disucikan. Guru dawuh: “Badan iki kandangane ruh. Yen ruh ora dibungkus jisim, alam iki kobong.” **Bab VI Panggilan Pulang dan Jiwa yang Tenang** Allah memanggil jiwa yang telah tenang: يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ Yā ayyuhan nafsul muṭma’innah, irji‘ī ilā rabbiki. (QS. al-Fajr: 27–28) Inilah tujuan akhir suluk: pulang dengan tenang, bukan dengan penyesalan. Khatimah (Penutup) Guru menutup dengan doa yang sangat tawadhu‘: “Mugi-mugi kulo punika mboten wonten ing alam kubur keluwen, nanging wonten ing emperan suargo mawon.” Semoga kita semua diringankan di alam kubur, diberi istiqamah di dunia, dan dipanggil pulang dalam keadaan ridha dan diridhai. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

22 Jan 2026 • Admin

Eling Sakdurunge Wektu Entek, Tangi Saderenge Dipanggil

Sebagai murid, kami menulis ini bukan untuk mengajari siapa pun, melainkan ngaturi eling diri pribadi, seraya nyuwun pangapunten bila pemahaman kami masih terbatas. Dawuh Guru tidak untuk diperdebatkan, melainkan diamalkan dan direnungi. Eling…..elingen iki….zaman wis akhir…waktu keroso cepet….. Karo dokter hewan wae mbutohno, Opo maneh karo dokter ati yo iku Guru Waskito. Karo sego ae olehe nggoleki sampek nteke dino, Mosok karo guru waskito di lalekno. Opo yo guno sehate rogo…… nek atine loro…??? Ilingooooo….. !!! Moloekat Izroil kui tekone ndadak ora kondo2… SIAP2O YO………. Lagi sak jam kepungkur nduwe ingkung sak ambenge, Saiki kari balung sak sampahe, ….wektu banget cepet mlesate…. Jarene ndunyo muter sesuai laku jantrane,…ojo sek Gumede naliko lagi iso lan Nduwe…..,mergo iso lan nduwe gak iso ngendek puteran Rodane. Tangi tangi leeee…..,mumpung Ruwah ojo lali ongkok sholawate …….. edisi Malam Jumat Kliwon…..AGHITSNII…..YA ROSULALLOH SARI’AN BI IDZATILLAH. Eling sebagai Peringatan, Bukan Hiasan Kata Dawuh “eling” yang disampaikan Guru bukanlah kalimat indah, melainkan peringatan keras yang lahir dari kasih sayang. Sebagai murid, kami memahami bahwa cepatnya waktu yang terasa di akhir zaman adalah teguran agar hati tidak lengah. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ mengingatkan bahwa lalai adalah awal dari kerasnya hati. Bila waktu terasa habis namun amal tak bertambah, maka itu tanda bahwa barakah sedang dicabut, dan ini hanya bisa disadari oleh orang yang mau eling. Guru Waskito: Nikmat yang Sering Tidak Disyukuri Opo maneh karo dokter ati yo iku Guru Waskito. Sebagai murid, kami sadar betul bahwa guru ruhani adalah nikmat besar, bahkan lebih besar daripada kesehatan jasad. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa orang yang tidak memiliki pembimbing akan mudah tertipu oleh amalnya sendiri. Ibnu ‘Arabi pun mengajarkan bahwa mursyid bukan pembuat jalan, melainkan penunjuk jalan yang telah dilalui dengan luka dan tangis. Maka melupakan guru bukan sekadar kelalaian adab, tetapi bahaya bagi keselamatan ruh. Sehat Jasad, Sakit Hati: Musibah yang Halus Opo yo guno sehate rogo…… nek atine loro…??? Sebagai murid, kalimat ini terasa menampar. Banyak dari kami sibuk menjaga raga, tetapi lupa membersihkan hati. Padahal menurut tasawuf, penyakit hati tidak terasa sakit, namun mematikan. Ibnu ‘Arabi menyebutnya sebagai hijab halus: seseorang tampak baik, ibadah berjalan, tetapi hatinya jauh dari Allah dan Rasul-Nya. Maut dan Kesiapan Diri Moloekat Izroil kui tekone ndadak ora kondo2… Guru mengingatkan bukan untuk menakut-nakuti, tetapi agar murid tidak menunda taubat. Sebab menurut Al-Ghazali, orang yang menunda taubat sejatinya sedang berjudi dengan ajalnya sendiri. Sebagai murid, kami hanya bisa menunduk dan bertanya pada diri: Sudah siapkah bila dipanggil hari ini? Dunia Berputar, Murid Jangan Gumede ojo sek Gumede naliko lagi iso lan Nduwe….. Ibnu ‘Arabi mengajarkan bahwa dunia adalah tajalli yang terus berubah, tidak layak dijadikan sandaran. Guru mengingatkan agar murid tidak gumede ketika diberi kemampuan dan kepemilikan, sebab itu semua titipan sementara. Hari ini di atas, besok bisa di bawah. Yang dibawa mati bukan “nduwe”, tetapi keadaan hati. Ruwah, Sholawat, dan Tangisan Murid Tangi tangi leeee…..,mumpung Ruwah ojo lali ongkok sholawate …….. Sebagai murid, kami memahami bahwa Ruwah adalah waktu untuk menata ulang batin, memperbanyak sholawat sebagai bentuk pengakuan bahwa kami tidak punya apa-apa selain bergantung kepada Rasulullah ﷺ. Dan puncaknya adalah jeritan hati: AGHITSNII…..YA ROSULALLOH SARI’AN BI IDZATILLAH. Ini bukan seruan berlebihan, melainkan pengakuan kelemahan murid, sebagaimana dijelaskan Ibnu ‘Arabi bahwa istighatsah adalah adab orang yang sadar dirinya fakir di hadapan Allah. Penutup: Murid yang Terus Belajar Eling Tulisan ini hanyalah catatan kecil murid yang sedang belajar eling, jauh dari sempurna. Bila ada kebenaran, itu dari dawuh Guru dan limpahan ilmu para ulama. Bila ada kekurangan, itu dari keterbatasan kami sebagai murid. Semoga kami tidak hanya pandai mengutip dawuh, tetapi mampu mengamalkannya, tidak hanya terharu, tetapi benar-benar berubah. Allahumma aghitsnaa, wa laa takilnaa ilaa anfusinaa tharfata ‘ain

21 Jan 2026 • Admin

Jalan Fana’ Para Arifin dalam Pesan KH. Masda Andi

Jalan Fana’ Para Arifin dalam Pesan KH. Masda Andi Di dalam dunia tasawuf, ukuran kedekatan seseorang kepada Allah tidak dinilai dari banyaknya wirid yang dibaca atau panjangnya doa yang dipanjatkan untuk dirinya sendiri, melainkan dari sejauh mana hatinya hidup untuk selain dirinya. Di sinilah pesan guru kita, KH. Masda Andi, berdiri sebagai dawuh yang lahir dari mata air ma‘rifat. “RAJIN RAJINLAH MENDOAKAN ORANG LAIN TERUTAMA SESAMA MUSLIM APALAGI SESAMA JAMAAH AL ASHKHABIYYAH……pesene Mbahe Mau Bengi👆” Pesan ini, jika dibedah secara hakikat, bukan sekadar etika sosial, melainkan latihan fana’ an-nafs—meleburkan ego dalam kasih ilahi. Doa sebagai Cermin Keadaan Hati Ibnu ‘Arabi dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah menyatakan: “Hati seorang hamba itu ibarat wadah. Apa yang paling sering ia limpahkan kepada makhluk, itulah yang memenuhi batinnya.” Maka orang yang ringan mendoakan orang lain sejatinya memiliki hati yang tidak penuh oleh dirinya sendiri. Inilah yang digambarkan dalam dawuh guru: “Akhlaqe Wali2ne Alloh kuwi seneng ndungakno wong liyo, sampek ra sempat ndungo kanggo awake dewe…..” Para wali telah sampai pada maqam di mana diri mereka telah diserahkan sepenuhnya kepada Allah, sehingga yang tersisa hanyalah kepedulian terhadap makhluk. Mereka yakin bahwa Allah lebih tahu kebutuhan mereka dibanding mereka sendiri. Imam Al-Ghazali menegaskan dalam Ihya’ ‘Ulumiddin: “Apabila seorang hamba telah jujur dalam tawakkalnya, maka ia tidak lagi sibuk memohon untuk dirinya, karena ia tahu Allah tidak akan melalaikannya.” Meniru Wali: Bukan Menjadi Wali Guru kita tidak membebani muridnya dengan tuntutan maqam tinggi, melainkan membuka pintu yang mungkin dimasuki siapa saja: “Tiruen akhlaqe waline Alloh najan gak iso sekabeyane niru….minimal siji tiru ‘ndungakno apik marang wong liyo’ …..sendiko Dawuh Mbah…..” Ini selaras dengan kaidah Junaid Al-Baghdadi: “Jalan ini tidak dicapai dengan klaim, tetapi dengan akhlak.” Tasawuf bukan tentang mengaku ahli, melainkan melatih hati agar lembut. Dan doa untuk orang lain adalah latihan paling aman, paling tersembunyi, dan paling ikhlas. Tidak Menghakimi: Maqam Orang yang Melihat Allah dalam Makhluk “Mereka tidak sibuk menghakimi, tidak ringan melaknat, dan tidak gemar membuka aib.” Ibnu ‘Arabi menyebut keadaan ini sebagai syuhud al-Haqq fi al-khalq—menyaksikan Allah dalam ciptaan-Nya. Orang yang masih mudah menghakimi sejatinya belum selesai dengan egonya sendiri. Ia berkata: “Barangsiapa melihat makhluk dengan mata dirinya, ia akan mencela. Barangsiapa melihat makhluk dengan mata Allah, ia akan mendoakan.” Maka para wali memilih satu sikap: “Yang mereka lakukan adalah mengangkat tangan dan menyerahkan urusan kepada Allah SWT.” Inilah puncak adab batin: diam dari reaksi, hidup dalam doa. Doa Tanpa Sepengetahuan: Amal Para Arwah yang Hidup Rasulullah ﷺ bersabda: “Doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa yang mustajab…” Dalam kacamata tasawuf, doa seperti ini adalah amal tanpa bayangan ego. Tidak ada harapan pujian, tidak ada pengakuan. Karena itu malaikat mengaminkan dan mengembalikannya kepada pendoa. Imam Ibn ‘Athaillah As-Sakandari berkata dalam Al-Hikam: “Amal yang paling selamat adalah amal yang tidak disadari oleh dirimu sendiri.” Ganjaran Wali Abdal: Bukan Status, Tapi Fungsi Ruhani “Nek ampeyan iso istiqomah ndungakno kanggo sesama muslim, sampeyan diganjar ganjarane Wali Abdal…..nggih Mbah….🙏” Wali Abdal bukanlah gelar kehormatan, melainkan fungsi batin: menjadi penyangga rahmat Allah di bumi. Orang yang istiqomah mendoakan sesama telah menjalankan fungsi ini, meski ia tidak dikenal siapa pun. Ibnu ‘Arabi menjelaskan: “Abdal adalah mereka yang mengganti keburukan dunia dengan doa, bukan dengan perlawanan.” Doa Orang Lain yang Menyelamatkan Kita “Karena bisa jadi doa yang menyelamatkan hidupmu bukan doa yang kau panjatkan untuk dirimu sendiri, tetapi doa yang kau panjatkan untuk saudaramu.” Inilah rahasia ilahi: keselamatan sering datang dari arah yang tidak kita sangka, karena Allah mencintai amal yang bersih dari kepentingan diri. Dan semua itu berpuncak pada doa agung untuk umat: “Allohummaghfir li ummati Sayyidina Muhammad…” (dan seterusnya) Doa ini adalah salah-satu nafas wirid dalam jamiyyah ashkhabiyyah, alhamdulillah doa ini diajarkan guru kami sebagai wirid setelah subuh, semoga dengan mengamalkan wirid doa tersebut menjadi salah-satu jalan riyadho jamaah aamiin—merangkul umat, bukan menyeleksi; mengobati, bukan menghakimi. “Mugi diparingi saget istiqomah…..aamiin” Aamiin. Semoga kita bukan hanya pembaca pesan wali, tetapi penjaga akhlaknya, dengan satu amalan yang sederhana namun dahsyat: mendoakan orang lain, diam-diam, terus-menerus, sampai Allah sendiri yang membela hidup kita.

14 Jan 2026 • Admin

Malam Penyambutan penutupan sementara Jam’iyah, Mengajak Hati untuk Diam

Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Jika malam ini engkau hadir, engkau akan merasakan bahwa langkahmu melambat sejak memasuki halaman. Tanah masih lembap. Hujan turun rintik-rintik—tidak deras—seolah langit pun menjaga suaranya agar tidak menutupi dzikir. Aroma bukhur menyambut lebih dulu daripada salam. Wangi itu tidak menusuk, tetapi pelan, merayap, lalu menetap di dada. Udara sejuk. Nafas terasa lebih panjang dari biasanya. Kami duduk sebagaimana murid duduk: tidak merasa datang untuk mengisi, tetapi untuk menerima. Lalu suara guru kami, KH Masda Andi, terdengar. Tidak meninggi, tidak pula tergesa. Hanya cukup untuk membuat hati diam. “Mugi-mugi Jumat Sabtu diparingi terang. Sak iki udan, nggih mboten napa-napa.” Kalimat itu jatuh perlahan, seperti hujan yang sedang turun. Tidak ada yang menimpali. Tidak ada yang merasa perlu bertanya. Dalam tasawuf, saat seperti ini bukan untuk dijelaskan, tetapi dirasakan. Wirid Dimulai: Nafas, Nama, dan Pengakuan Ketika wirid dimulai, engkau akan menyadari satu hal: tidak ada yang berlomba cepat. Tidak ada yang mengeraskan suara. Bismillāhirraḥmānirraḥīm dibaca 111 kali. Setiap lafadz terasa seperti mengetuk pintu batin sendiri. Seolah-olah kita diingatkan: jangan masuk sebelum mengetuk. Lalu Rabbighfir lī warḥamnī wa tub ‘alayya dibaca 70 kali. Pada bacaan ke sekian, engkau mungkin menunduk lebih dalam. Bukan karena lelah, tapi karena sadar: yang kita bawa ke majelis ini hanyalah butuh. Guru membuka dengan doa “Laqad jā`akum rasūlun…”. Nama Rasulullah ﷺ disebut. Dan anehnya, dada terasa lapang, seolah ada yang mengatur ulang letak hati. Kemudian Sholawat Jibril dilantunkan 100 kali. Jika engkau peka, pada hitungan-hitungannya yang akhir, suasana menjadi sunyi—bukan karena tidak ada suara, tetapi karena hati tidak ingin berbicara lagi. Isyarat Diam: Istirahat yang Bukan Berhenti Disampaikan bahwa rotib kalih Bulughul Marom sementara diistirahatkan. Tidak ada raut kecewa. Tidak ada gumam. Seorang murid tahu: yang diistirahatkan adalah bacaan, bukan hubungan. Lalu terdengar permintaan maaf kepada Ustadz Bahrul, dari guru kami. Pada saat itu, engkau akan merasakan sesuatu yang halus: jam’iyah ini dijaga dengan akhlak, bukan hanya wirid. Pagi Tadi: Tamu yang Menyisakan Rasa Guru menyebut tamu yang datang pagi tadi. Masih ada hubungan kalihMbah Rodiah disebut. Juga Gus Mik &Mbah Imam. Tidak panjang penjelasannya. Namun di ruang seperti ini, nama bukan sekadar nama. Ia membawa jejak, sanad, dan kisah yang tidak perlu diucapkan. Sebagian dari kami hanya saling pandang. Sebagian menunduk. Karena kami paham: tidak semua pertemuan dimaksudkan untuk diceritakan ulang. Foto tamu yang dimaksudkan Pesan Jumat Terakhir Rajab Engkau mendengar pesan tentang Jumat terakhir bulan Rajab. Tentang bacaan: أَحْمَدُ رَسُوْلُ اللهِ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ “Ahmad Rasulullah Muhammad Rasulullah” sebanyak 35 kali, saat khatib duduk di antara dua khutbah. Tidak terdengar janji berlebihan. Hanya disebut sebagai ikhtiar, sebagaimana diajarkan para ulama tasawuf. Di dapat guru kami dari habib abdurohman bil faqih malanh Lalu kisah sederhana tentang bawang merah dan Qul Huwa Allāhu Aḥad untuk sengatan hewan berbisa. Jika engkau perhatikan, pelajaran di sini bukan soal bawangnya, tetapi tentang tauhid yang turun ke urusan paling dekat dengan kehidupan.( didapat guru kami dari kyai sahal, kyai sahal sangking kyai abdussalam pati) Menjelang Akhir: Malam yang Menyambut Diam Hujan masih turun. Bukhur masih beraroma. Tidak ada tanda-tanda tergesa untuk pulang. Ini bukan malam penutupan. Ini adalah malam penyambutan— penyambutan bagi hati yang akan belajar berhenti tanpa meninggalkan, diam tanpa memutus, dan menepi tanpa merasa jauh. Jika engkau hadir malam ini, engkau pulang tanpa membawa banyak kata, tetapi dengan satu rasa yang tinggal lebih lama: tenang, dan cukup. Wallāhu a‘lam

14 Jan 2026 • Admin

Detik-Detik Menjelang Penutupan: Isyarat Ruhani dari Guru di Gubuk Kawah Condro Dimuko

klik untuk melihat video yang dibagikan Menjelang penutupan sementara Jam’iyyah Al Ashkhabiyyah, suasana batin jama’ah seakan ditarik masuk ke ruang yang lebih dalam. Tidak ramai oleh acara, tidak hiruk oleh simbol, tetapi sunyi oleh makna. Pada saat-saat seperti inilah guru kami, KH Masda Andi, justru sering membagi tulisan—singkat, sederhana, namun menghujam tepat ke inti hati. Tulisan-tulisan itu bukan sekadar pesan. Ia seperti isyarat, seperti ketukan halus dari langit yang hanya bisa didengar oleh hati yang sedang waspada. Guru kami menulis: DETIK DETIK MENUNGGU ACARA PENUTUPAN JAM’IYYAH AL ASHKHABIYYAH……….. gubuk kawah condro dimuko Eling…elingen iki….tenan…tenan iki…. (sendiko dawuh Mbah …..) awakmu nglakoni dosa gak opo opo tapi kowe ojo sampek gak telaten tobat,…gak telaten istighfar lan ojo sampek naliko kowe tobat, kalah semangat ambek naliko awakmu nglakoni duso. bedane wong iman garo wong gak iman artine bedane wong sing arep slamet garo sing gak arep slamet iku gampang. “idza dzukiro dzakaro” ketika diingatkan mau mendengarkan………. iku berarti alamat slamet,…tapi kowe nek wis dinasehati wong, dielingke wong, wis gak iso,…… berarti kowe iki ngenteni dielingke Pengeran, dielingke Pengeran kui ngeri tenan leeee…… dielingke kok dielingke Pengeran, iku rodo gawat lee. Ya Alloh Ya Robb diujung Bulan Rojab, bulan ampunan, bulan diterimanya tobat……. ampunilah kami semua keluarga besar jama’ah Al Ashkhabiyyah, jadikanlah kami semua golongan yang ahli taubat dan berilah kami semua hati yang lembut yang selalu mau menerima nasehat nasehat baik….. dan matikanlah kami semua dalam KHUSNUL KHOTIMAH…..AAMIIN Sebagai murid, kami tidak berani menafsirkan berlebihan. Namun dalam adab tasawuf, diam yang merenung sering kali lebih fasih daripada bicara yang panjang. Pesan ini seakan mengajak kami kembali kepada perkara paling mendasar dalam suluk: taubat yang jujur dan hati yang mau diingatkan. Taubat: Bukan Bebas dari Dosa, tapi Setia Kembali Guru tidak pernah menuntut muridnya menjadi suci tanpa cela. Bahkan dengan bahasa Jawa yang sangat membumi, beliau menegaskan: awakmu nglakoni dosa gak opo opo. Ini bukan pembenaran dosa, melainkan pengakuan hakikat manusia. Bahwa jatuh itu manusiawi. Namun garis tegasnya ada pada kelanjutan pesan itu: ojo sampek gak telaten tobat, gak telaten istighfar. Dalam tasawuf, bukan dosa yang paling ditakuti, melainkan berhentinya seseorang dari kembali. Lebih berbahaya lagi jika semangat taubat kalah oleh semangat berbuat dosa. Di situlah hati mulai mati pelan-pelan. Isyarat Keselamatan: Mau Mendengar Saat Diingatkan Guru mengutip kalimat yang bersumber dari makna Al-Qur’an dan hadits: “idza dzukiro dzakaro” — ketika diingatkan, ia mau ingat. Inilah alamat keselamatan. Bukan banyaknya ilmu, bukan tingginya wirid, tetapi kelembutan hati saat dinasihati. Dalam tasawuf, hati yang masih bisa bergetar oleh nasihat manusia adalah hati yang masih hidup. Sebaliknya, jika sudah tidak bisa dinasihati siapa pun, maka seseorang sedang menunggu peringatan langsung dari Allah. Dan guru kami menyebutnya dengan bahasa yang sangat jujur dan menggetarkan: ngeri tenan… rodo gawat. Karena peringatan Allah tidak selalu datang dalam bentuk kata, kadang berupa kejadian yang mengguncang hidup. Penutupan Majlis: Ditutup di Lahir, Dibuka di Batin Menjelang penutupan sementara majlis, pesan-pesan seperti ini terasa bukan sebagai akhir, melainkan pembukaan pintu ke dalam diri. Seolah guru ingin mengatakan bahwa majlis sejati tidak pernah tutup—ia berpindah dari lantai gubuk ke relung hati masing-masing jama’ah. Doa di ujung tulisan beliau, yang dipanjatkan di akhir Bulan Rajab, adalah doa kolektif: agar kami menjadi ahli taubat, diberi hati yang lembut, dan ditutup usia dalam khusnul khotimah. Dalam tasawuf, inilah puncak harapan seorang murid: bukan karamah, bukan maqam, tetapi akhir yang diridhai. Sebagai murid, kami hanya bisa menundukkan kepala, menyimpan pesan ini dalam-dalam, dan berusaha mengamalkannya semampu kami. Jika tulisan ini terasa mengetuk hati, itu bukan karena indahnya kata, melainkan karena barokah nasihat guru yang lahir dari laku, bukan sekadar pikir. Semoga kami semua selalu termasuk orang-orang yang eling nalika dielingke, dan tidak menunggu peringatan Allah dalam bentuk yang menakutkan. Allahumma ahyinaa bi al-inabah, wa amitnaa ‘alaa husnil khatimah. Aamiin.

13 Jan 2026 • Admin

Ilmu sebagai Amanat, Murid sebagai Cermin

Dalam perjalanan suluk, ada satu kesadaran yang tidak datang dari buku, tidak pula dari lisan manusia, melainkan dari getaran batin: ilmu bukanlah milik, melainkan titipan. Dan setiap titipan adalah amanat, sementara amanat menuntut penjagaan yang tidak ringan. Seorang murid boleh saja pulang dari majelis, boleh keluar dari ruang talaqqi, boleh masuk ke masa liburan—namun ia tidak pernah keluar dari pandangan adab. Karena yang dijaga bukan sekadar hafalan, melainkan keadaan hati. Aku merenung pada dawuh guru yang masih terngiang jelas, bukan sebagai perintah biasa, tetapi sebagai wasiat ruhani: “cekelen iki… eling2en iki…. kanggo bahan latihan selama liburan sak wise penutupan……. saate terjun nang tengah2 ummat…..” Dawuh ini tidak hanya memerintahkan untuk mengingat, tetapi mencekal batin agar tidak lepas kendali saat berada di tengah umat. Sebab di situlah ujian sesungguhnya bermula: bukan di khalwat, tetapi di keramaian; bukan di wirid, tetapi di interaksi; bukan saat tunduk, tetapi saat dipandang. Apakah Guru Merasakan Ketika Murid Keluar Jalur? Pertanyaan ini lahir bukan dari rasa takut yang dangkal, tetapi dari kesadaran akan ikatan ruhani antara guru dan murid. Dalam tradisi ruhani, hubungan ini bukan hubungan administratif, melainkan hubungan amanah dan silsilah batin. Seorang guru bukan sekadar pengajar, ia adalah penanggung jawab ruhani. Maka ketika seorang murid berbuat buruk dengan membawa-bawa ilmu, nama, atau isyarat gurunya, keburukan itu tidak berhenti pada diri murid. Ia mengalir, seperti asap, menuju sumber cahaya yang ia klaim sebagai sandaran. Bukan berarti guru menanggung dosa murid, tetapi getaran perbuatan murid mempengaruhi medan ruhani yang pernah disentuh guru. Inilah mengapa para masyayikh sangat takut melepas murid sebelum adabnya kokoh, meski ilmunya telah cukup. Racun Halus Bernama “Merasa” Di sinilah letak bahaya yang paling sunyi. Bukan maksiat yang kasat mata, bukan pelanggaran syariat yang jelas, melainkan racun halus dalam diri manusia: merasa lebih tinggi, memandang rendah, merasa paling benar, paling suci, paling mengerti. Ia tidak bersuara, tidak berbau, tidak tampak—tetapi menggerogoti maqam dari dalam. Banyak salik jatuh bukan karena kurang ibadah, tetapi karena tertipu oleh bayangan dirinya sendiri. Dalam kitab-kitab tasawuf disebutkan, ujub sering menyamar sebagai syukur dan istiqamah. Padahal, ketika hati mulai sibuk mengukur diri dan orang lain, di situlah nafsu mengambil alih kemudi. Imbas Murid dan Tanggung Jawab Guru Pemahaman ini mengguncang batinku: jika seorang murid membuat ulah yang buruk di luar dengan membawa-bawa ilmu dari gurunya, maka dampak keburukan itu akan dirasakan pula oleh sang guru. Maka sungguh tidak ringan menjadi murid. Setiap gerak adalah cermin. Setiap ucapan adalah representasi. Setiap sikap bisa menjadi hujjah—entah untuk kebenaran, atau untuk fitnah. Karena itu para salik sejati selalu berdoa bukan agar cepat naik maqam, tetapi agar tidak mempermalukan gurunya di hadapan Allah. Antara Nafsu dan Pertolongan Allah Dalam perenungan yang panjang, satu hukum ruhani menjadi jelas: Setinggi apa pun pencapaian thariqah seorang murid, ia akan dibuat tersesat jika mengikuti keinginan nafsunya. Dan serendah apa pun kedudukan rohaninya, ia akan ditolong Allah untuk naik jika ia jujur memerangi hawa nafsunya. Allah tidak menilai klaim, tetapi perjuangan batin. Allah tidak melihat maqam yang disebut, tetapi nafsu yang ditundukkan. Maka keselamatan bukan pada “sudah sampai mana”, melainkan pada siapa yang masih dijadikan musuh: nafsu atau ego. Penutup: Menjaga Ilmu dengan Diam dan Rendah Seorang salik sejati lebih takut pada hilangnya adab daripada tertinggalnya wirid. Ia lebih memilih disangka bodoh daripada merasa pintar. Ia lebih senang direndahkan manusia daripada ditinggikan nafsunya. Karena ia tahu: ilmu yang tidak dijaga adabnya akan menjadi hijab, dan ilmu yang dijaga dengan rendah hati akan menjadi jalan pulang. Semoga Allah menjaga para guru kita dari imbas kelalaian murid-muridnya. Dan semoga kita dijadikan murid yang lebih banyak menunduk daripada berbicara, lebih sibuk memperbaiki diri daripada menilai orang lain. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

13 Jan 2026 • Admin

Detik-detik Menjelang Ikhtitam “Penyingkapan Racun Dalam Suluk”

Bedah Ruhani Dawuh Guru KH. Masda Andi (13 Januari 2026) Dalam perjalanan thariqah, ada fase ketika guru tidak lagi bicara tentang banyaknya amal, tetapi mulai menunjuk racun halus yang hidup di balik amal. Racun ini tidak berisik, tidak tampak kasar, bahkan sering bersembunyi di balik kesalehan, perjuangan, dan ilmu. Pada 13 Januari 2026, menjelang ikhtitam sementara Majlis Ta’lim wa Dzikir Jam’iyyah Al Ashkhabiyyah, dawuh ini disampaikan. Bila dibaca dengan adab murid, ia bukan sekadar peringatan, melainkan bekal latihan batin bagi salik saat nanti “terjun nang tengah-tengah ummat”. Teks Asli Dawuh Guru KH. Masda Andi (ditulis apa adanya, tanpa perubahan) Detik…detik..menunggu ikhtitam/penutupan sementara Majlis Ta’lim wa Dzikir Jam’iyyah Al Ashkhabiyyah cekelen iki…eling2en iki….kanggo bahan latihan selama liburan sak wise penutupan…….saate terjun nang tengah2 ummat….. Ada racun halus dalam diri manusia yang terkadang muncul tanpa suara.. Rasa ingin terlihat lebih tinggi dari orang lain, rasa memandang rendah, rasa merasa paling benar, paling suci, paling mengerti. Rasa seperti itu tidak sekedar salah, ia sebenarnya adalah cermin dari penyakit lama yang pernah membuat makhluk mulia tersesat. . ‘𝗞𝗲𝘀𝗼𝗺𝗯𝗼𝗻𝗴𝗮𝗻.’ Iblis bukan jatuh karena kurang ibadah, bukan karena ia tidak mengenal Tuhan, iblis sangat ma’rifat billah…..tapi ia jatuh bahkan terlaknat….. Ia jatuh karena satu kalimat dalam hatinya. . ‘𝗔𝗸𝘂 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗯𝗮𝗶𝗸 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗻𝘆𝗮.’ Kalimat itu adalah belati yang memotong seluruh cahaya. Dan sejak saat itu, ibadahnya tidak berarti apa-apa. …..na’udzbillahimindzalik RUMUS Sopo wonge nggawe amben mesti arep entuk longane. Sopo wonge gelem berjuang kanggo agomo, taat kepada agama, taat karo aturane gusti Allah, opo seng dadi kebutuhane arep dicukupi karo gusti Allah. Lan gusti Alloh ora nulayane jani. يا أيها الذين أمنوا إن تنصرالله ينصركم ويثبت أقدمكم إن الله لا يخلف الميعاد Golek ilmu dibenerke niate, sesuk kok kebetulan dadi pejabat, tentara, dokter, kiyai , pengusah,juragan, bahkan gak dadi opo2, cuman dadi wong tok………🤣🫢🙏🏻dll iku bonus. Gejobo di benerke niate yo seng sregep seng tenanan lan dibarengi riyadhoh (tirakat) koyo ngrowot, moco hizib, dalail dll ben berkah, mergo berkah kui tiada duanya, lan mergo nek gak berkah mengko iso menjerumuskan, kuabeh kui nek gak ditirakati,diriyadlohi…pasti isine mung goroh tur makelaran tok… .masio babakan agomo yo uakeh makelare…… maka ati2lah….. Semoga bisa mengambil manfaatnya dan dimudahkan untuk bisa mengamalkannya, aamiin … 1. “Racun halus” dalam istilah tasawuf Dalam tasawuf, racun ini disebut ujub, kibr khafi, dan da‘wa an-nafs—kesombongan yang tidak terasa. Ia tidak tampak sebagai maksiat, justru sering menyamar sebagai: merasa lebih paham, lebih lurus, lebih berjuang, lebih suci. Karena halus, ia sering lolos dari istighfar. 2. Iblis dan ma‘rifat tanpa adab Dawuh guru menyinggung perkara yang sangat mendalam: iblis sangat ma’rifat billah Dalam tasawuf, ini pelajaran penting: ma‘rifat tanpa adab melahirkan laknat, bukan kedekatan. Kalimat “Aku lebih baik darinya” adalah simbol runtuhnya tauhid rasa, meski tauhid lisan masih ada. Sejak itu, ibadah tidak lagi bernilai karena cahaya amal dipotong oleh klaim diri. 3. “RUMUS” sebagai kaidah suluk Ungkapan Jawa: Sopo wonge nggawe amben mesti arep entuk longane dalam thariqah bermakna: siapa yang menyediakan tempat untuk Allah dalam hatinya, Allah sendiri yang akan mengisinya. Ayat yang dikutip guru menegaskan hukum Allah: إن الله لا يخلف الميعاد Allah tidak pernah ingkar janji, tetapi seringkali kita yang keliru memahami bentuk pertolongan-Nya. 4. Ilmu, niat, dan riyadhoh Dalam suluk, ilmu tanpa riyadhoh disebut ilmu tanpa cahaya. Itulah sebabnya guru menekankan: niat dibenarkan, amal disungguhkan, dan ditirakati. Karena berkah bukan hasil kecerdasan, melainkan anugerah yang turun kepada hati yang direndahkan. Tanpa riyadhoh, agama pun bisa menjadi dagangan, dan dai bisa berubah menjadi makelar, sebagaimana peringatan guru dengan sangat jujur. Penutup Adab Murid Dawuh ini bukan untuk menuduh siapa pun, tetapi untuk menjaga diri sendiri saat nanti berada di tengah umat. Sebab semakin ke depan, godaan bukan lagi maksiat kasar, melainkan rasa lebih yang halus dan memabukkan. Sebagai murid, tugas kita bukan membantah dawuh guru, tetapi menjadikannya cermin harian, agar amal tidak berubah menjadi belati bagi diri sendiri. Semoga Allah menjaga kita dari kesombongan yang tersembunyi, dan menutup hidup kita dengan khusnul khotimah dalam fakir dan adab. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Menampilkan halaman 9 dari 17 (Total 152 data)