WARTA & ARTIKEL DAKWAH

Kumpulan Tulisan, Berita Kegiatan & Catatan Ilmu

Menghimpun risalah hikmah, pengumuman jadwal istighosah, dan dokumentasi khidmah majlis Al-Ashkhabiyyah.

13 Jan 2026 • Admin

Asbābul Pembetulan Penulisan Makna “Aamiin”

Dalam sebuah majelis Jam’iyyah Ashkhabiyyah, terjadi peristiwa kecil namun sarat makna adab dan ilmu. Peristiwa ini bermula ketika salah satu anggota jamaah, Sueb, mengucapkan dan menuliskan kata amin saat mengamini doa yang dipanjatkan oleh guru kami, KH. Masda Andi. Hal yang tampak sepele ini justru membuka ruang diskusi panjang. Bukan karena beliau ingin memperdebatkan hal remeh, tetapi justru karena beliau tidak mau asal mengucap atau membenarkan sesuatu tanpa mengetahui alasan ilmiahnya. Catatan Guru (Tanpa Perubahan) Guru kami menjelaskan bahwa cara penulisan “amin” tidak boleh disamakan, karena dalam bahasa Arab, panjang–pendeknya harakat (mad) sangat mempengaruhi makna. Beliau menegaskan bahwa yang benar untuk mengamini doa adalah: “AAMIIN” dudu “amin” (iki maknane wis bedo) Adapun perbedaan makna berdasarkan penulisan adalah sebagai berikut: Amin (pendek–pendek) bermakna: aman Aamin (a panjang, i pendek) bermakna: meminta perlindungan Amiin (a pendek, i panjang) bermakna: jujur / terpercaya Aamiin (a panjang, i panjang) bermakna: “Ya Allah, kabulkanlah doa kami” Inilah lafaz yang paling tepat dan paling umum digunakan ketika mengamini doa. Catatan ini disampaikan langsung oleh guru kami dalam konteks menjaga ketepatan lafaz, adab doa, dan kehati-hatian dalam ibadah lisan. Pandangan dan Pelajaran bagi Jamaah Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kami bahwa mengucap “Aamiin” bukan sekadar formalitas penutup doa, tetapi bagian dari ibadah yang memiliki makna mendalam. Diskusi yang terjadi tidak dimaksudkan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk: Menjaga kemurnian makna doa Melatih kehati-hatian dalam lisan Menghidupkan adab belajar sebelum berucap Tidak meremehkan perkara kecil dalam ibadah Di sinilah kami melihat keteladanan guru kami: tidak tergesa-gesa membenarkan, tidak mudah menganggap remeh, dan selalu mengajak jamaah berilmu sebelum beramal. Penutup Dari peristiwa ini, Jam’iyyah Ashkhabiyyah belajar bahwa: Satu huruf bisa mengubah makna, dan satu makna bisa menentukan adab di hadapan Allah. Maka, ketika kita mengamini doa, mari kita niatkan dengan penuh kesadaran dan menuliskannya dengan benar: Aamiin. Semoga Allah mengabulkan doa-doa kita semua, lahir dan batin.

13 Jan 2026 • Admin

Dikalah Dawuh Guru Menjadi Palu Penghancur Bangunan Batin

Dalam perjalanan ruhani, ada momen-momen tertentu ketika sebuah kalimat sederhana justru menjadi palu yang menghancurkan bangunan batin yang selama ini kita anggap kokoh. Dawuh guru bukan datang untuk menghibur ego salik, tetapi sering kali hadir sebagai cermin yang jujur, memantulkan apa yang selama ini kita sembunyikan rapat-rapat di balik amal dan ibadah. Pada tanggal 12 Januari 2026, dawuh ini dibagikan di Grup Jam’iyah Ashkhabiyyah. Ketika dibaca perlahan dengan adab seorang murid, ia bukan sekadar nasihat, melainkan penyingkapan tabir (kasyf)—bukan membuka rahasia langit, tetapi membuka kedok rasa “aku” yang masih hidup dalam ibadah. Dalam tasawuf, inilah fase yang paling halus sekaligus paling berbahaya: ketika ibadah tidak lagi melalaikan, tetapi justru melahirkan rasa memiliki. Teks Asli Dawuh Guru KH. Masda Andi (ditulis apa adanya, tanpa perubahan) selama ini ternyata aku tertipu garo ibadahku dewe Dudu ibadahku sing nipu ku…… Tapi perasaan bahwa ibadah iku milikku. “Keinginan ku ngatur takdir kuwi tanda butane ati ku terhadap kebijaksanaan/ketentuan Allah.” Berapa kali aku marah pada takdir Berapa kali aku protes dalam doa Berapa kali aku berkata, “Kenapa bukan aku……???” “Kenapa akau tetap begini…..????” “Kenapa dungoku gak dikabul2, jarene Guru,,,,Alloh Maha mengabulkan dungo……?” garo nangis aku……😭😭 dalam kebingunan opo sing kudu tak lakoni…….😇😇😇?????? Tiba……tiba……. (dalam posisi memeluk tiang/cagak bangunan) Hancurkan rasa “aku”-mu. Biarkan ati mu miskin. Biarkan jiwa mu tak punya apa-apa selain harap dan bergantung pada Allah. buktikno,….lakonono kanti sak kuatmu WIRID 36.. …….. Semoga kita semua Khusnul Khotimah meninggalkan Rutinan dan Khusnul Khotimah meninggalkan Dunia…… Aamiin. Tabir yang Tersingkap: Dalam khazanah tasawuf, penyakit paling halus bukanlah maksiat lahir, tetapi i‘tiqad khafi—keyakinan tersembunyi bahwa aku adalah pelaku. Ketika guru mengatakan “perasaan bahwa ibadah iku milikku”, sejatinya ia sedang menunjuk hijab amal. Imam Al-Junaid rahimahullah menegaskan bahwa: “Amal yang disertai rasa memiliki adalah amal yang masih berdiri bersama nafs.” Maka kegelisahan yang digambarkan dalam dawuh—marah pada takdir, protes dalam doa, tangis dalam kebingungan—bukanlah tanda kegagalan suluk. Justru itu alamat bahwa nafs sedang dilucuti, dan hati mulai memasuki wilayah fakir. Saat dawuh itu sampai pada kalimat: “Hancurkan rasa ‘aku’-mu”, tasawuf menyebutnya sebagai panggilan menuju fana’ ‘an nafs, bukan lenyap secara fisik, melainkan lenyapnya klaim kepemilikan. Adapun perintah wirid bukanlah penegasan kuantitas amal, tetapi ujian kejujuran batin: apakah wirid itu semakin menipiskan “aku”, atau justru menegaskan “aku yang mengamalkan”. Penutup: Antara Rutinan dan Dunia Doa penutup dawuh ini sangat dalam: Khusnul Khotimah meninggalkan rutinan, sebelum Khusnul Khotimah meninggalkan dunia. Dalam pandangan tasawuf, siapa yang mampu keluar dari amal tanpa membawa ego, insyaAllah akan dimampukan keluar dari dunia tanpa membawa beban selain harap kepada Allah. Tulisan ini bukan tafsir atas dawuh guru, melainkan upaya menjaga agar hati tidak lancang, sembari membiarkan dawuh itu sendiri yang bekerja menghancurkan “aku” dari dalam. Semoga kita dijaga dalam adab murid, dan dimatikan dalam keadaan tidak memiliki apa-apa, kecuali rahmat Allah semata. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

11 Jan 2026 • Admin

Perbendaharaan Ashkhabiyyah “Tangisan Batin”

“Guru-guru yang memahami rahasia dunia dan kelangitan kini tinggal sedikit” Mereka seperti pelita di tengah kabut, terus menyala meski sedikit yang mendekat. Di zaman ketika pembicaraan tentang langit semakin jarang terdengar, para guru sejati masih menjaga nyala cahaya melalui sholawat. Mereka memahami bahwa sholawat bukan sekadar bacaan lisan, melainkan jalan untuk menyambung hati manusia dengan rahmat langit. Guru-guru yang mengerti rahasia dunia dan kelangitan kini semakin sedikit. Mereka seperti pelita di tengah kabut zaman— terus menyala dengan sholawat, meski hanya sedikit yang mendekat. Sholawat mereka tidak bising, tidak mencari perhatian, namun mengalir pelan, menenangkan, dan menghidupkan batin. Sementara itu, banyak manusia sibuk mengejar hal-hal duniawi. Nama, rupa, kekuasaan, dan pencapaian lahir dianggap segalanya. Padahal, sholawat mengajarkan keseimbangan: hidup di dunia tanpa terputus dari langit. Dalam pandangan tasawuf, sholawat adalah jalan pemurnian rasa. Ia melembutkan hati, menata niat, dan menghubungkan manusia dengan akhlak Rasulullah ﷺ sebagai cermin kesempurnaan insan. Para guru sejati tidak pernah lelah bersholawat. Mereka tahu, ketika sholawat hidup di hati, manusia akan lebih mudah mencintai, membenahi diri, dan memberi manfaat bagi sekitarnya. Mereka membina tanpa pamrih, agar setiap murid kelak mampu menjadi pelita bagi batinnya sendiri. Namun sering kali, para penjaga sholawat ini berjalan sendirian. Dipandang kuno di tengah dunia yang memuja kecepatan dan tampilan. Padahal, merekalah penjaga keseimbangan halus— penjaga hubungan antara bumi yang rapuh dan langit yang penuh rahmat. Bumi semakin menua. Masalah manusia semakin berat. Teknologi berkembang, tetapi hati banyak yang kosong. Di sinilah sholawat kembali menemukan maknanya: sebagai penyejuk jiwa dan penuntun arah. Bumi tidak menunggu kecanggihan, dan tidak berharap pada kekuasaan. Ia menanti manusia-manusia yang hatinya hidup oleh sholawat— manusia yang membawa ketenangan, adab, dan tanggung jawab ruhani. Wahai para pecinta Rasulullah ﷺ, apakah sholawat hanya akan menjadi bacaan di lisan, atau akan engkau hidupkan sebagai cahaya dalam sikap dan perbuatan? Bumi tidak menunggu kata-kata indah. Ia menunggu hati-hati yang bersambung dengan Nabi ﷺ melalui sholawat yang jujur dan terus menyala. Tulisan ini lahir dari keadaan batin, dengan kabar yang kami terima dari guru kami, KH. Masda Andi, tentang Ndoro Habib Hasan bin Abdullah BSA, sebagai pengingat bahwa jalan sholawat masih terbuka, dan cahaya Rasulullah ﷺ tidak pernah padam di setiap zaman.

11 Jan 2026 • Admin

Saat Sanad Berdenyut dalam Ujian Sakit Guru

Di saat kabar sakit parah Habib Hasan—pengijazah sanad Dalā’ilul Khairāt—menyentuh batin para murid, Allah menghadirkan satu pengingat yang sangat halus namun dalam. Pada pukul 22.00 malam, guru kami KH. Masda Andi menuliskan sebuah catatan ruhani di grup, bukan sekadar kenangan, melainkan sambungan sanad yang hidup. Tulisan itu membawa kami kembali pada satu malam yang sunyi, malam yang tidak semua orang diundang untuk menyaksikannya, namun dicatat oleh langit. “3,3 th yang lalu, tepat pukul 01.00 malam di Maqbaroh Tebuireng, pengijazahan Dalailul Khoirot dengan saksi Mbah Hasyim , Ya Alloh Ya Robb dengan wasilah maqbaroh Tebuireng jadikanlah kami semua ahlus Sholawat, dan kumpulkanlah kami semua dengan Guru kami, besok di Padang Ma’zar, dengan Syafaat Kekasih Engkau dan dalam naungan Engkau. Allohumma a’tina yaumal qiyamati syafa’ata Nabiyyika Muhammadin Shollallohu ‘Alaihi was salam, yauma laa syafa’ata ila Syafa’atuhu, wa adhillana yauma laa dhilla ila dhiluka….Aamiin” Kalimat ini bukan tulisan biasa. Ia adalah jejak sanad yang ditulis ulang oleh waktu, kini hadir kembali tepat ketika guru sanad berada dalam ujian sakit yang berat. Seakan Allah mengingatkan para murid: sanad bukan hanya ketika ijazah diterima, tapi ketika guru diuji, murid dipanggil untuk setia dalam doa. Maqbarah Tebuireng, dengan kesaksian Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, menjadi saksi bahwa sholawat tidak pernah mati. Ia berpindah dari lisan ke lisan, dari hati ke hati, dan kelak akan menjadi naungan di Padang Mahsyar, sebagaimana doa guru kami sendiri. Tulisan ini terasa bukan sekadar nostalgia, melainkan isyarat ruhani: bahwa sholawat yang diijazahkan dahulu, kini sedang kembali naik sebagai doa untuk para guru. Bahwa sanad Dalā’ilul Khairāt bukan hanya bacaan, tapi tali penghubung saat hidup dan saat menuju akhir. Di saat Habib Hasan diuji sakit, para murid sejatinya sedang diuji: apakah sholawat masih dibaca dengan adab, apakah guru masih dihadirkan dalam doa, dan apakah sanad masih dijaga dengan tawadhu’. Semoga Allah menerima semua sholawat yang mengalir, mengangkat derajat para guru, dan mengumpulkan kita semua kelak bersama mereka, di bawah Syafa’at Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ, dalam naungan yang tiada naungan selain naungan-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

11 Jan 2026 • Admin

Jejak sang pendosa 8, isyarah lembut daun sukun (wuquf fi qolbi)

Temanku bercerita, pada awal ia bergabung dalam jam’iyah Ashkhabiyyah, semangatnya begitu menggebu. Ia mengira jam’iyah itu adalah jalan cepat menuju Tuhan—instan dan pasti. Maka ia menjalani wirid dan suluk dengan, yang telah di ijasahkan dengan penuh keyakinan, hampir tanpa jeda. Suatu malam, ketika ia hendak tidur, ia merasakan angin masuk ke kamarnya. Udara berubah dingin dan sunyi. Dalam keheningan itu, terdengar suara samar, seakan sedang mencari seseorang yang biasa menempati sebuah tempat khusus, namun saat itu tidak berada di sana. Ia terkejut. Dadanya berdegup kencang. Namun ia memilih diam, menganggap mungkin itu hanya kelelahan batin. Beberapa waktu kemudian, seusai wirid Saman, ia masih berdiam di tempatnya. Tiba-tiba muncul gambaran langit yang luas. Di sana terlihat kantong-kantong tipis berwarna putih melayang-layang. Di antaranya ada beberapa yang berwarna kuning, memancarkan cahaya lembut. Dalam hatinya ia bertanya, “Di manakah ini?” Sebuah suara menjawab tanpa rupa: “Itu adalah ruh-ruh manusia yang akan diturunkan ke bumi. Yang berwarna kuning adalah ruh pilihan, ruh yang telah menjaga dzikir meski masih di alam ruh.” Belum sempat ia memahami penjelasan itu, tiba-tiba ia dipanggil. Jarinya diikat dengan benang yang sangat tipis, namun terasa kuat ketika ditarik. “Ikuti arah benang ini,” ujar suara itu. Ia pun mengikuti benang tersebut hingga tiba di suatu tempat. Di sana ia melihat dua orang sepuh dengan wajah teduh. Di samping mereka berdiri seorang pendamping yang tampak lebih muda, namun auranya dalam dan menenangkan. Salah satu orang sepuh itu memberinya sehelai daun sukun. Dengan suara gemetar ia bertanya, “Panjenengan sinten?” Pendamping itu hanya menjawab, “Beliau adalah seorang guru.” Hatinya bergetar. Ia menatap daun sukun di tangannya. Dalam benaknya muncul makna yang membuatnya takut: sukun—berhenti. Dan berhenti, baginya saat itu, terasa seperti akhir. Ia terbangun dari tempat wirid dengan napas tersengal. Hari-hari setelahnya ia diliputi kegelisahan. Ia mencoba bercerita kepada seorang teman majelis, namun cerita itu menyebar hingga sampai kepada gurunya. Tak lama kemudian, sang guru menghubunginya. Beliau menjelaskan bahwa sosok yang ia lihat merupakan bagian dari mata rantai sanad dzikir yang sedang ia amalkan. Ia terkejut. Dengan hati-hati ia bertanya tentang makna daun sukun. Sang guru hanya tersenyum dan berkata singkat, “InsyaAllah, itu pertanda rezeki.” Tak ada penjelasan panjang. Hanya senyum dan ketenangan. Wallāhu a‘lam. Sekitar satu bulan setelah kejadian itu, temanku mulai memahami potongan-potongan isyarah tersebut. Ia mengerti bahwa pada malam itu, sosok yang biasa menempati tempatnya memang sedang menjalankan amanah tertentu. Di waktu yang sama, sang guru juga tengah diuji dengan cobaan berat dalam keluarganya. Saat itulah ia sadar: daun sukun bukan isyarat kematian, melainkan isyarat berhenti dari rasa merasa paling benar. Berhenti tergesa-gesa. Berhenti mengira jalan menuju Tuhan selalu lapang tanpa ujian. Ia hanyalah seorang pendosa yang sedang diajari untuk melambat, membaca tanda, dan menundukkan hati. Dan hingga kini, jejak itu masih ia pelajari, setapak demi setapak. Tambahan: Ketika Allah Menyuruh Kita Berhenti Sejenak Tidak semua kegelisahan adalah tanda kita jauh dari Allah. Kadang justru sebaliknya—itu pertanda kita sedang diperhatikan. Ada orang yang rajin ibadah, tekun wirid, tidak pernah meninggalkan amalan. Namun tiba-tiba hatinya gelisah, pikirannya kacau, dan langkahnya terasa berat. Ia bertanya-tanya, “Apa yang salah denganku?” Padahal, bisa jadi Allah sedang menyuruhnya berhenti sejenak. Berhenti dari merasa cepat sampai. Berhenti dari merasa lebih dulu paham. Berhenti dari mengira jalan kepada Allah selalu ringan tanpa ujian. Dalam perjalanan ruhani, Allah sering berbicara dengan isyarah, bukan dengan suara yang keras. Kadang lewat pertemuan, kadang lewat kegelisahan, bahkan lewat ketakutan yang tidak kita mengerti saat itu. Seperti daun sukun—ia bukan tanda akhir, tapi tanda ditenangkan. Disukunkan. Dihentikan sementara. Agar hati bisa menunduk, bukan meninggi. Tidak semua yang terasa berat itu buruk. Tidak semua yang membuat kita takut itu ancaman. Bisa jadi itu adalah cara Allah membersihkan niat kita Wallāhu a‘lam bish-shawāb. Allah Maha Mengetahui mana yang paling benar.

08 Jan 2026 • Admin

Seng Penting Rutin Bagian 2

(Catatan Dawuh Guru – 8 Januari 2026) Tulisan ini tentu tidak akan pernah mampu menggambarkan seluruh kemuliaan sosok Guru kami. Namun setidaknya, dari pengalaman dan kisah yang disampaikan, kita dapat mengambil teladan tentang kehidupan seorang Guru yang dimuliakan Allah. Sebagaimana dawuh Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani: من أراد الفلاح فليصر ترابا تحت أقدام الشيوخ “Barang siapa menghendaki keberuntungan, hendaklah ia menjadi debu di bawah telapak kaki para guru.” Semoga kita semua memperoleh keberkahan dari para Guru kita. Aamiin. Eling-Elingen… Dudu awak dewe sing memilih dadi murid. Dalam dunia tasawuf, pernyataan bahwa “bukan engkau yang memilih menjadi murid” memiliki makna spiritual yang sangat dalam. Ia berkaitan dengan hakikat kehendak, takdir, dan kasih sayang Allah. Murid adalah orang yang diinginkan oleh Tuhan. Para sufi meyakini bahwa seseorang tidak akan memiliki keinginan untuk mencari dan mendekat kepada Allah, kecuali jika Allah terlebih dahulu menghendaki orang tersebut untuk mendekat kepada-Nya. Keinginan untuk belajar agama dan tasawuf sejatinya adalah pantulan dari kehendak Allah yang sedang menarik hati kita. Jika Allah tidak menggerakkan hati dan memberikan hidayah khusus, maka sejuta guru pun tidak akan mampu membawamu ke jalan ini. Tasawuf mengajarkan bahwa merasa “aku yang memilih” adalah kesombongan halus. Sebaliknya, merasa dipilih dan dipanggil akan melahirkan rasa faqir, merasa tidak memiliki daya dan upaya apa pun, serta rasa syukur karena mendapat anugerah yang luar biasa: diundang ke hadirat-Nya. Perjumpaan dengan Guru Ruhani Bukanlah Kebetulan Perjumpaan dengan Guru ruhani tidak pernah dianggap sebagai kebetulan. Ruh-ruh itu ibarat pasukan yang berbaris; yang saling mengenal akan saling terpikat. Seorang Guru sejati sering kali telah melihat muridnya secara ruhani, jauh sebelum sang murid menyadarinya. Maka ketika seseorang merasa memilih Guru, sejatinya sang Guru—atas izin Allah—telah menerima dan menarik ruh murid tersebut. Sebagai adab, perjalanan spiritual ini bukan tentang kehebatanmu dalam mencari, tetapi tentang kerinduan Allah kepadamu, yang termanifestasi dalam bentuk pencarianmu. Faham ta…? Kesimpulan Engkau mencari karena engkau sedang dicari. Engkau mencintai karena engkau terlebih dahulu dicintai. Allah Maha Baik, Maha Uapik Tenan. Bersyukurlah jika awak dewe dipilih. Bukan awak dewe sing memilih, tetapi Allah yang memilih awak dewe. Awas ojo GR! Bersyukurlah… bersyukurlah… Ketika awak dewe ditarik masuk ke jam’iyyahan apa pun, di mana pun, yang penting Gurunya bersanad dan jelas. Tentang Ashkhabiyyah Ashkhabiyyah tidak mudah mengatakan “kafir”, tidak mudah mengatakan “syirik”, dan tidak merasa paling lurus sendiri. Ashkhabiyyah tidak mudah menyalahkan amaliyah yang memiliki dalil. Jamaah Ashkhabiyyah seharusnya rajin beribadah tanpa merendahkan orang lain. Memahami sunnah, tetapi tetap menjaga adab. Hadits menjadi petunjuk hidup, bukan alat untuk menghantam tradisi umat Islam. Ayat Al-Qur’an membawa rahmat, bukan provokasi dan kebencian. Semoga tulisan ini bermanfaat dan membawa barokah bagi kita semua, dalam rangka menyambut tamu agung pada acara: Penutupan Sementara 🗓 16 Januari 2026 / 28 Rajab 1447 H 🕖 Jum’at Malam Sabtu, pukul 19.30 WIB 📍 Musholla Sirojul Ummat Catatan penulis: Sangat jarang Guru menyampaikan dawuh pada sore hari. Biasanya beliau mewanti-wanti di pagi hari, dan menyampaikan pesan pada malam hari. Ketika dawuh ini disampaikan di siang hari, ada rasa batin bahwa terdapat kondisi ruhani tertentu yang melatarbelakanginya. Maka dawuh ini ditulis dan didokumentasikan, tanpa mengubah isi sedikit pun, sebagaimana disampaikan oleh Guru kami KH. Masda Andi pada tanggal 8 Januari 2026.

08 Jan 2026 • Admin

Kisah al-kharis sebagai pengingat

Kisah Khâris Al-Khafî (Disampaikan oleh Guru KH. Masda Andi dalam pengajian Bapak Zainal, 07 Januari 2026 — dari Kitab Risalatus Khusyairiyah) Pada saat pengajian, Guru KH. Masda Andi menyampaikan sebuah kisah yang sangat menyentuh hati. Kisah ini diambil dari Kitab Risalatus Khusyairiyah, tentang seorang hamba Allah yang bernama Al-Khâris Al-Khafî. Al-Khâris ini, sebagaimana diceritakan guru, bukanlah orang besar, bukan pula seorang ulama terkenal. Dalam kehidupan sehari-hari, beliau hanyalah seorang tukang minum. Jika dilihat dari penampilan lahiriah, tidak ada yang tampak istimewa. Suatu malam, Al-Khâris berjalan sendirian. Malam itu sunyi. Ketika melangkah, beliau melihat selembar tulisan undangan yang di dalamnya terdapat lafadz “Allah”, tergeletak di pematang sawah dan terinjak-injak oleh orang yang lewat. Al-Khâris berhenti. Ia tidak melanjutkan langkahnya. Hatinya tergerak. Tulisan itu kemudian diambil, dibersihkan, lalu diolesi minyak, dan disimpan di dalam lemari, ditempatkan di tempat yang lebih layak dan lebih mulia. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang memuji. Tidak ada yang tahu. Namun, sebagaimana disampaikan guru, pada malam itu juga, Al-Khâris diundang oleh Allah dan diangkat menjadi Wali Allah. Bukan karena banyaknya ibadah lahir. Bukan karena kedudukan sosial. Bukan karena penampilan luar. Tetapi karena adab kepada Asma Allah, dan rasa pengagungan yang tulus, meskipun melalui perbuatan yang terlihat kecil dan sederhana. Guru kemudian menyampaikan dengan nada yang dalam: “Kadang Allah mengangkat derajat seseorang bukan dari perkara-perkara besar, tetapi dari hati yang bersih dan sikap tidak meremehkan hal-hal kecil.” Pesan yang Menjadi Pegangan Di akhir cerita, Guru KH. Masda Andi menyampaikan pesan yang sangat penting, dan ini menjadi dasar bagi saya pribadi, khususnya bagi jamaah Ashkhabiyyah: Jangan sekali-kali meremehkan seseorang, meskipun secara lahiriah tampak sederhana atau tidak seperti kita. Karena kita tidak pernah tahu: siapa yang paling dekat dengan Allah, siapa yang amalnya paling diterima, dan siapa yang justru diangkat derajatnya hanya karena satu adab kecil yang tulus. Kisah Al-Khâris Al-Khafî ini bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi cermin untuk hati kita hari ini—agar lebih rendah hati, lebih berhati-hati, dan lebih memuliakan apa pun yang berhubungan dengan Allah

08 Jan 2026 • Admin

Laa Ilaaha Illallah dan Burung Hijau pengusik penduduk langit

Lanjutan ngaji Tanbīhul Ghāfilīn (07 januari 2026) Malam itu majelis tidak terlalu ramai, tapi sunyi yang ada justru terasa berat. Guru kami duduk bersila, sarung sederhana, suara pelan tapi menancap. Beliau membuka dengan senyum kecil, lalu berkata pelan: “Jenengan ngerti ora, niki dawuh Kanjeng Nabi ﷺ…” Kami langsung menegakkan punggung. Guru melanjutkan: “Saben wong ngucap Laa ilaaha illallah, saka cangkeme metu manuk ijo.” Lalu beliau nyeletuk dengan gaya guyon khas Jawa: “Iki dudu dongeng, iki dawuh Nabi.” Kami saling pandang. Burung itu, kata beliau, berwarna hijau—ijo segar, seperti tanah tandus yang baru kena hujan. Hijau yang menghidupkan. Hijau yang mengingatkan pada Khodir—makna kehidupan yang muncul dari kehampaan. “Ati sing garing, nek kena dzikir tauhid, dadi ijo.” Dada Hijau, Sayap Putih, dan Cahaya yang Bertaburan Guru lalu membaca potongan riwayat: Burung itu punya dua sayap putih, dadanya hijau, dan di sekelilingnya bertaburan mutiara serta permata. Beliau berhenti sebentar, lalu berkata: “Iki simbol, nduk. Iman iku resik, tauhid iku urip, amal sholeh iku ayu.” Burung itu tidak diam. Ia terbang naik… naik… menembus lapisan langit. Dengungannya Mengganggu Penduduk Langit Ketika burung itu terbang, suaranya berdengung. Ramai. Terus-menerus. Sampai akhirnya, kata guru, penduduk langit terganggu. Para malaikat berseru: “Uskun! Tenanglah!” Namun burung itu menjawab—dan di sini suara guru mendadak meninggi: “Aku ora bakal mandek, nganti Allah ngapura dosa wong sing dzikir iki.” Kami terdiam. Kenapa suaranya begitu ramai? Karena—kata guru—burung itu diciptakan dengan tujuh puluh mulut. Setiap mulut berdzikir. Setiap mulut memohon ampun. “Sampeyan wis mandek dzikir, tapi dzikirmu durung mandek.” Guyon yang Menampar Hati Guru tersenyum lagi, lalu berkata ringan tapi nusuk: “Boten usah digoleki ngeh nganggo meribwirid golek.” (Tidak usah cari-cari rasa dengan ribuan wirid hanya untuk pembuktian.) Lalu beliau menatap kami satu per satu. “Yakin apa ora?” Kami menjawab serentak: “Yakin!” Beliau langsung menyambar: “Nek gak yakin, podo maca syahadat. Soale iki dawuh Kanjeng Nabi.” Bukan marah. Tapi jujur. Laa Ilaaha Illallah dan Jalan Tarekat Kemudian guru membandingkan: “Sampeyan wirid Laa ilaaha illallah wae wis ngono. Opo maneh wirid Saman 166.” Beliau menghela napas. “Bertapane wong-wong iku luar biasa.” Di sinilah guru menjelaskan kenapa kisah seperti ini menjadi landasan berdirinya tarekat. Bukan karena ingin karomah. Bukan karena ingin disebut wali. Tapi karena dzikir yang istiqamah membentuk manusia yang poros hidupnya hanya Allah. Dari sinilah dinukil dawuh Syaikh Saman: “Sopo sing istiqamah wirid Saman, aku sing nyatet dadi golongan wali quthub.” Maknanya bukan klaim jabatan, tapi tanggung jawab ruhani. Penutup yang Membuat Dada Sesak Di akhir majelis, guru membaca hadits: مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ Beliau lalu menegaskan: “Teks hadits-e ngono. Tapi ojo salah paham.” Beliau menepuk dada. “Ora kudu meksa ilat iso ngucap. Sing penting, atimu pas metu saka donya iki isih netepi iman.” Sunyi. Tidak ada yang berani bicara. Akhirnya Kami Mengerti Burung hijau itu bukan untuk dicari. Dengung langit itu bukan untuk dibuktikan. Tarekat bukan jalan pintas. Semua hanya menunjuk pada satu hal: Jaga imanmu. Istiqamahkan dzikirmu. Dan pulanglah kepada Allah dengan hati yang hidup.

08 Jan 2026 • Admin

Tanbīhul Ghāfilīn – Dawuh Guru & Renungan Hisab

7 januari 2026 Oleh: kh masda andi Dikediaman :Bpk zainal bendet Kitab: Tanbīhul Ghāfilīn Pengarang: Imam Abū Laits As-Samarqandī (Nama lengkap: Abū Laits Nashr bin Muhammad bin Ibrāhīm As-Samarqandī) Catatan Sanad & Riwayat Dawuh ini dinukil dari Tanbīhul Ghāfilīn. Disebutkan dari Abū Qāsim ‘Abdurrahman bin Muhammad, Faras bin Murdāwiyah, Muhammad bin Fadhl, Yukhlī bin ‘Ubaid, Al-Afrīqī, dari Abū ‘Abdirrahman, beliau berkata: Qāla Rasūlullāh ﷺ. ‘Amr bin ‘Āsh r.a. mireng langsung dateng Kanjeng Nabi ﷺ. Kisah Kotak Catatan Amal Yang diceritakan adalah kisah kotak catatan amal: 99 amal jelek dan 1 amal baik. Saat Allah mengadili makhluk-Nya, Allah bertanya kepada hamba itu: “Apakah kamu protes?” Hamba itu menjawab: “Tidak, ya Rabb.” Dibentangkan 99 catatan amal buruk, masing-masing sejauh mata memandang. Lalu dikeluarkan satu kartu kecil berisi lā ilāha illallāh. Ketika ditimbang, 99 amal jelek menjadi ringan, dan satu amal tauhid menjadi berat. Ini menunjukkan bahwa tauhid yang ikhlas tidak bisa dikalahkan oleh apa pun, selama tidak dirusak oleh kesyirikan dan kesombongan. Pengadilan Akhirat Gurukami KH Masda mengutip ayat: ﴿ الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ فَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴾ (QS. Yasin: 65) Ketika pengadilan itu berlangsung, mulut kita dikunci, boten saget goro. Ora iso bantah, ora iso alesan. Sing ngomong malah tangan, sikil, lan badan dewe. Pesan Lanjutan Guru Guru dawuh: “Ojo sampek gelek kirim Fātiḥah nang wong, ambek awaké dhéwé ora tau.” Iki dadi tamparan batin. Akeh wong seneng ngirim Fātiḥah kanggo wong liya, wong mati, guru, leluhur, nanging awaké dhéwé ora tau diwelingi. Maka guru ngajari ngucap: “Khusūṣon ilā rūḥī wa jasadī wa nafsī…” Sambil nyekel dodo kiwa. Iki ngandhut makna: Ngakoni awaké dhéwé butuh pitulungan Allah Ruh, jasad, lan nafs kudu disucikake Hisab diwiwiti saka diri sendiri, dudu saka wong liya Nyekel dodo kiwa iku tandha eling: iman, niat, lan rusake amal asalé saka njero ati. Pesan Penjaga Ilmu Pesan lanjutan maneh: “Inna hādzal ‘ilma dīnun, fandhurū ‘amman ta’khudzūna dīnakum.” Ilmu iki agama. Dadi kudu tenan-tenan ndelok: ilmu agama iki dijupuk teko sopo. Guru dawuh nganggo basa sederhana: “Delok o kowe kabeh oleh njupuk ilmu agama teko sopo ae.” Iki dudu larangan sinau, nanging eling supaya ora sembrono. Ilmu tanpa adab lan sanad iso nyesatke, lan salah ilmu iso kebawa nganti akhirat. Renungan Pribadi Catatan iki ngelingake aku yen: Ing akhirat ora ana pembelaan lisan Sing nylametke dudu akeh amal, nanging iman sing resik Doa lan Fātiḥah kudu diwiwiti saka awaké dhéwé Ilmu agama kudu dijaga adab lan sumberé Tulisan iki ditulis ora kanggo pamer paham, nanging kanggo eling lan ngati-ati, amarga sing bakal dihisab dudu wong liya, nanging aku dhewe.

Menampilkan halaman 10 dari 17 (Total 152 data)