WARTA & ARTIKEL DAKWAH

Kumpulan Tulisan, Berita Kegiatan & Catatan Ilmu

Menghimpun risalah hikmah, pengumuman jadwal istighosah, dan dokumentasi khidmah majlis Al-Ashkhabiyyah.

24 May 2026 • Admin

Ketika Guru Terlihat Namun Tidak Terasa: Catatan Hakikat Seorang Pencari

Ada masa-masa dalam perjalanan ruhani ketika seorang murid merasa dekat dengan gurunya. Nasihat mudah didengar, petunjuk terasa jelas, dan kehadiran sang guru seperti selalu menyertai langkah-langkahnya. Namun ada pula masa yang berbeda. Beberapa minggu terakhir aku merasakan keadaan yang sulit dijelaskan. Guruku ada, namun seperti tidak ada. Beliau terlihat, tetapi kehadirannya tidak terasa sebagaimana biasanya. Di grup jamiyah yang biasanya hidup dengan candaan, arahan, dan perhatian beliau kepada para anggota, aku seperti tidak menemukan sosok yang selama ini akrab mengawasi perjalanan kami. Perasaan ini bukan pertama kali datang. Aku pernah mengalaminya saat awal mengikuti jamiyah. Saat itu aku memahami bahwa guru sedang menjalankan tugas tertentu. Karena itu, ketika rasa yang sama kembali hadir, aku menduga mungkin ada keadaan yang serupa. Tetapi kali ini terasa berbeda. Aku tidak segera mencari jawaban kepada siapa pun. Selama kurang lebih dua minggu, aku memilih mencari pemahaman sendiri di bawah kolong langit. Aku memandang perjalanan hidup, memperhatikan keadaan batin, dan bertanya dalam diam: “Pelajaran apa yang sedang diajarkan semesta kepadaku?” Dari perenungan itu, muncul satu pemahaman. Mungkin dzikir ruhani bukan sekadar jalan untuk naik menuju rasa kedekatan kepada Allah. Dzikir juga mengajarkan bagaimana seorang salik mengalami pendakian dan penurunan maqamat secara sadar. Ada saat hati dipenuhi cahaya, ada saat terasa kering. Ada masa dipenuhi rasa hadir, ada masa dipenuhi rasa kehilangan. Keduanya bukan musuh perjalanan. Keduanya adalah bagian dari perjalanan itu sendiri. Pada saat hati diangkat, seorang hamba belajar mensyukuri tajalli, yaitu penampakan rahmat dan cahaya Ilahi yang menyentuh batinnya. Sedangkan ketika hati diturunkan dan rasa-rasa itu dicabut sementara, seorang hamba belajar membersihkan dirinya dari ketergantungan kepada selain Allah. Pendakian mengajarkan keindahan. Penurunan mengajarkan keikhlasan. Pendakian menghadirkan rasa. Penurunan menguji kesungguhan. Barangkali di sanalah hijab-hijab diri mulai tersingkap sedikit demi sedikit, hingga seorang pencari tidak lagi bergantung kepada keadaan batinnya sendiri, melainkan kepada Allah semata. Lalu muncul pemahaman lain yang lebih dalam. Mungkin inilah pelajaran yang sedang diajarkan kepada kami: jangan memandang guru hanya melalui kehadiran yang tampak. Jangan bergantung kepada sosok guru tanpa usaha berjalan sendiri. Seorang guru sejati tidak selalu mendampingi murid dengan kata-kata. Kadang beliau mengajar dengan diam. Kadang beliau mengajar dengan jarak. Kadang beliau mengajar dengan membiarkan murid mencari sendiri apa yang selama ini hanya didengar dari orang lain. Seakan-akan beliau tidak ada. Padahal beliau tetap mengawasi. Seakan-akan beliau menjauh. Padahal beliau sedang mengajarkan cara berdiri dengan kaki sendiri. Karena tujuan perjalanan ruhani bukanlah menjadikan murid bergantung kepada guru. Tujuannya adalah agar murid menemukan jalan menuju Allah dengan kesadaran, kesungguhan, dan pengalaman yang lahir dari perjuangannya sendiri. Maka ketika guru terasa jauh, belum tentu itu tanda ditinggalkan. Bisa jadi itu tanda bahwa pelajaran telah memasuki bab yang baru. Bab ketika seorang murid harus belajar berjalan, sementara sang guru mengawasi dari kejauhan. Dan mungkin, justru dalam keadaan itulah banyak rahasia perjalanan mulai dibukakan.

22 May 2026 • Admin

Menyimak Rahasia Witir: Renungan Seorang murid Tentang Kasih Sayang Allah

Bismillahirrahmanirrahim. Tulisan ini bukanlah fatwa, bukan pula penafsiran yang mengikat. Ia hanyalah renungan seorang murid yang masih belajar memahami jejak-jejak rahmat Allah dalam ibadah yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Witir dan mencintai yang witir.” Sejak pertama kali mendengar hadits ini, kebanyakan kita memahami bahwa Allah menyukai bilangan ganjil. Maka banyak ibadah yang dibangun di atas pola ganjil; witir satu rakaat, tiga rakaat, lima rakaat, tujuh rakaat, dan seterusnya. Namun dalam perjalanan ngaji dan tafakkur, muncul sebuah pertanyaan kecil di dalam hati saya: Mengapa Allah mencintai yang witir? Tentu Allah tidak membutuhkan bilangan ganjil. Allah Maha Kaya dan tidak memerlukan apa pun dari makhluk-Nya. Karena itu, ketika Allah mencintai sesuatu, tentu bukan karena Allah memperoleh manfaat darinya. Maka terlintas dalam benak saya, jangan-jangan rahasia witir bukan sekadar persoalan angka, melainkan bahasa kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Witir Sebagai Penutup Kekurangan Perhatikanlah bagaimana syariat menempatkan shalat witir. Ia berada di akhir. Setelah Isya.Setelah tarawih.Setelah tahajud.Setelah seluruh rangkaian shalat malam. Seakan-akan seluruh amal seorang hamba dikumpulkan terlebih dahulu, lalu di penghujung malam Allah menghadiahkan witir sebagai penutupnya. Para ulama menjelaskan bahwa shalat sunnah dapat menjadi penyempurna kekurangan shalat wajib. Dari sini muncul renungan dalam hati saya: Bukankah mungkin witir juga merupakan simbol bahwa kasih sayang Allah datang setelah seluruh usaha manusia selesai? Siang hari manusia penuh kekurangan. Ada shalat yang kurang khusyuk.Ada dzikir yang terputus.Ada pandangan yang belum terjaga.Ada niat yang tercampur. Namun ketika malam tiba dan seorang hamba berdiri untuk witir, seakan ia sedang mengetuk pintu rahmat Allah sambil berkata: “Ya Allah, aku telah berusaha semampuku. Sisanya aku serahkan kepada-Mu.” Maka witir menjadi lambang bahwa rahmat Allah selalu lebih besar daripada kekurangan amal hamba. Pola Ada dan Tiada Dalam renungan berikutnya, saya melihat bahwa banyak ciptaan Allah berjalan dengan pola berpasangan. Siang dan malam.Hidup dan mati.Masuk dan keluar.Nafas dan hembusan.Lapar dan kenyang.Tidur dan bangun. Bahkan teknologi modern yang dibuat manusia pun bekerja dengan pola sederhana: ada dan tidak ada. Dalam bahasa komputer dikenal angka 1 dan 0. Tentu bukan berarti komputer menjelaskan hakikat alam semesta. Namun manusia sering kali meniru sebagian kecil sunnatullah yang sudah Allah hamparkan dalam penciptaan. Seakan-akan kehidupan dunia dibangun di atas pergantian keadaan. Tidak ada siang yang abadi.Tidak ada malam yang kekal.Tidak ada sehat yang terus-menerus.Tidak ada sakit yang selamanya. Semua bergerak dalam irama pergantian. Mengapa Puasa Daud Selang-Seling? Di sinilah saya teringat kepada puasa Nabi Daud alaihissalam. Sehari berpuasa.Sehari berbuka. Sehari menahan.Sehari menerima. Sehari lapar.Sehari kenyang. Sehari meninggalkan dunia.Sehari berinteraksi dengan dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai puasa yang paling dicintai Allah. Mengapa bukan puasa terus-menerus? Mengapa justru pola selang-seling? Wallahu a’lam. Namun dalam renungan seorang hamba, puasa Daud seakan mengajarkan agar manusia tidak membeku dalam satu keadaan. Karena dunia memang diciptakan bergerak. Orang yang memahami pergantian akan mudah menerima takdir. Ketika kaya ia tidak mabuk. Ketika miskin ia tidak putus asa. Ketika dipuji ia tidak terbang. Ketika dicela ia tidak jatuh. Karena ia tahu bahwa dunia berjalan dengan sunnatullah pergantian. Rahasia Ganjil Menurut Hati Seorang Hamba Saya tidak berani mengatakan bahwa inilah makna hadits yang sebenarnya. Namun hati saya menangkap satu isyarat: Bilangan genap selalu menunjukkan pasangan yang saling berhadapan. Sedangkan bilangan ganjil selalu menyisakan satu. Satu yang tidak mempunyai pasangan. Satu yang berdiri sendiri. Satu yang menjadi tempat kembali seluruh pasangan. Bukankah hanya Allah yang demikian? Segala sesuatu memiliki lawan. Panas memiliki dingin.Terang memiliki gelap.Laki-laki memiliki perempuan.Langit memiliki bumi. Tetapi Allah tidak mempunyai tandingan, tidak mempunyai pasangan, tidak mempunyai lawan. Karena itu ketika Allah mencintai yang witir, seakan-akan Allah sedang mengingatkan hamba agar jangan bergantung kepada pasangan-pasangan dunia. Di balik semua sebab, ada Musabbibul Asbab. Di balik semua gerak, ada Penggerak. Di balik semua bilangan, ada Yang Maha Esa. Penutup Semakin lama saya merenungi witir, semakin saya merasa bahwa rahasia terbesarnya bukan pada angka ganjil itu sendiri. Rahasia terbesarnya adalah rahmat. Seorang hamba beramal dengan segala kekurangannya. Lalu Allah menutup kekurangan itu dengan kasih sayang-Nya. Sebagaimana malam ditutup dengan witir. Sebagaimana amal ditutup dengan ampunan. Aku juga berfikir apakah ini bentuk kasih allah yang mengingatkan hamba akan kekurangan diatas yang maha esa? Apakah allah menunjukan hamba kembali pasanya Apakah kasih allah dalam puasa daud puasa yang dicintainya bentuk dari rahmad memberikan sehari hak kepada manusia dan sehari hak kepadanya Sebagaimana hidup seorang mukmin pada akhirnya ditutup dengan rahmat Allah semata. Wallahu a’lam bish-shawab. Rekaman pengajian akan segera di upload, di aplikasi ashkhabiyyah

16 May 2026 • Admin

Di Tengah Ombak yang Mengamuk, Ada Lelaki yang Shalat di Atas Laut

Kisah ini disampaikan ust restu, dipengajian al-ashkhabiyyah di musholah sirojudin desa nglaban pada 15 mei 2026 Dikutip dari hikayat ke 10 kitab an-nawidir Malam itu laut berubah wajah. Angin meraung seperti hendak merobek langit. Ombak menggulung tinggi menghantam kapal besar yang membawa ratusan penumpang. Orang-orang panik. Sebagian berteriak, sebagian menangis, sebagian lagi hanya mampu berpegangan sambil membaca doa seadanya. Air laut mulai naik ke atas dek. Kapal semakin berat. Ketakutan menyelimuti seluruh penumpang. Menurut orang-orang yang pernah menaiki kapal itu, belum pernah terjadi badai sedahsyat malam tersebut. Seolah lautan benar-benar diperintah untuk menelan semuanya sekaligus. Namun di tengah kepanikan itu, ada satu sosok yang justru terlihat begitu tenang. Seorang lelaki berjubah duduk di sudut kapal. Wajahnya teduh. Tidak tampak ketakutan sedikit pun. Ia diam seperti seseorang yang hatinya sedang tenggelam dalam kehadiran Allah. Lalu sesuatu yang mustahil pun terjadi. Lelaki itu berdiri. Kemudian berjalan keluar dari kapal. Bukan berenang. Bukan menaiki perahu kecil. Tetapi berjalan di atas permukaan laut. Ombak besar yang membuat kapal nyaris tenggelam itu seolah menjadi pijakan baginya. Bahkan yang lebih menggetarkan, lelaki tersebut berdiri melakukan shalat di atas gelombang air yang berguncang hebat. Semua penumpang terpaku. Di antara mereka ada seorang lelaki — sebut saja Fulan — yang menyadari bahwa sosok tersebut bukan manusia biasa. Dengan suara gemetar ia berteriak: “Wahai waliyullah, tolonglah kami!” Namun lelaki itu tidak menoleh. Fulan kembali memohon: “Demi Dzat yang memberimu kekuatan untuk beribadah kepada-Nya, selamatkan kami!” Kali ini lelaki berjubah itu menoleh. Dengan wajah polos ia bertanya: “Apa yang terjadi pada kalian?” Fulan sampai heran mendengar pertanyaan tersebut. “Apakah engkau tidak melihat kapal ini hampir tenggelam diterjang ombak dan badai?” Lelaki itu menjawab singkat: “Dekatlah kepada Allah.” “Bagaimana caranya?” tanya Fulan. “Meninggalkan dunia.” Jawaban itu menghantam hati mereka lebih keras daripada ombak yang menghantam kapal. Fulan dan seluruh penumpang pun berkata: “Kami akan melakukannya.” Lelaki tersebut lalu berkata: “Keluarlah dari kapal sambil membaca bismillah.” Perintah yang tampak mustahil. Namun dalam keadaan tak memiliki harapan selain Allah, seluruh penumpang mengikuti instruksi itu. Satu demi satu mereka turun dari kapal sambil membaca basmalah. Dan keajaiban pun terjadi. Mereka tidak tenggelam. Mereka berjalan di atas air. Lebih dari dua ratus orang berdiri di atas lautan bersama lelaki misterius itu, sementara di hadapan mata mereka sendiri kapal yang tadi mereka tumpangi perlahan tenggelam ke dasar laut. Setelah semuanya selamat, lelaki itu berkata: “Kalian sudah diselamatkan Allah. Sekarang pergilah.” Namun Fulan masih penasaran. “Siapakah engkau sebenarnya?” Lelaki itu menjawab pelan: “Aku adalah Uwais al-Qarni.” Nama yang mengguncang hati para pecinta orang-orang saleh. Tetapi kisah belum selesai. Fulan lalu berkata bahwa di dalam kapal terdapat harta milik seorang penduduk Mesir yang hendak disedekahkan kepada fuqara Madinah. Semua harta itu ikut tenggelam bersama kapal. Uwais al-Qarni bertanya: “Jika Allah mengembalikan harta kalian, maukah kalian membagikannya kepada fakir miskin Madinah?” Mereka menjawab: “Mau.” Uwais kemudian melaksanakan shalat dua rakaat. Ia berdoa lirih. Tidak ada teriakan. Tidak ada pertunjukan. Hanya doa seorang hamba yang dekat dengan Rabb-nya. Tiba-tiba laut kembali berguncang. Dan kapal yang telah tenggelam itu muncul kembali dari dasar lautan lengkap bersama seluruh isinya. Para penumpang menangis menyaksikan kejadian tersebut. Mereka kembali naik ke kapal. Sedangkan Uwais al-Qarni menghilang entah ke mana. Kapal itu akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Dan ketika sampai di sana, para penumpang benar-benar menepati janji mereka: membagikan harta tersebut kepada para fuqara Madinah sampai disebutkan tidak tersisa lagi orang fakir di sana. Begitulah kisah karamah Uwais al-Qarni yang dinukil dalam kitab Al-Nawadir karya Ahmad Shihabuddin al-Qalyubi. Kadang Allah memperlihatkan kepada manusia bahwa yang menyelamatkan bukan kapal, bukan kekuatan, bukan kepintaran. Tetapi hati yang benar-benar bergantung kepada-Nya. Dan salah satu pelajaran terbesar dari kisah ini adalah: Sedekah yang ikhlas dapat menjadi sebab datangnya pertolongan Allah, bahkan di saat manusia sudah merasa tidak memiliki jalan keluar sama sekali. Wallahu a’lam.

27 Apr 2026 • Admin

42. Tuan Guru syaikh Abdurohman Kumango

42. Tuan Guru syaikh Abdurohman Kumango 43. Tuan Guru Syaikh Abdul Qodir Belubus 44. Tuan Guru Syaikh Ibrohim Bonjol 45. Tuan Guru Syaikh Suyuti Imam Iskandar 46. Tuan Guru Syaikh Burhan ( Ayah Guru)....Nafa'na bihim bi barokatihim wa anwarihim wa asrorihim wa ulumihim bi idznika Ya Alloh......

Menampilkan halaman 4 dari 17 (Total 152 data)