Pengajian 22 Mei 2026 Admin

Menyimak Rahasia Witir: Renungan Seorang murid Tentang Kasih Sayang Allah

Menyimak Rahasia Witir: Renungan Seorang murid Tentang Kasih Sayang Allah

Bismillahirrahmanirrahim.

Tulisan ini bukanlah fatwa, bukan pula penafsiran yang mengikat. Ia hanyalah renungan seorang murid yang masih belajar memahami jejak-jejak rahmat Allah dalam ibadah yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah itu Witir dan mencintai yang witir.”

Sejak pertama kali mendengar hadits ini, kebanyakan kita memahami bahwa Allah menyukai bilangan ganjil. Maka banyak ibadah yang dibangun di atas pola ganjil; witir satu rakaat, tiga rakaat, lima rakaat, tujuh rakaat, dan seterusnya.

Namun dalam perjalanan ngaji dan tafakkur, muncul sebuah pertanyaan kecil di dalam hati saya:

Mengapa Allah mencintai yang witir?

Tentu Allah tidak membutuhkan bilangan ganjil. Allah Maha Kaya dan tidak memerlukan apa pun dari makhluk-Nya. Karena itu, ketika Allah mencintai sesuatu, tentu bukan karena Allah memperoleh manfaat darinya.

Maka terlintas dalam benak saya, jangan-jangan rahasia witir bukan sekadar persoalan angka, melainkan bahasa kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Witir Sebagai Penutup Kekurangan

Perhatikanlah bagaimana syariat menempatkan shalat witir.

Ia berada di akhir.

Setelah Isya.
Setelah tarawih.
Setelah tahajud.
Setelah seluruh rangkaian shalat malam.

Seakan-akan seluruh amal seorang hamba dikumpulkan terlebih dahulu, lalu di penghujung malam Allah menghadiahkan witir sebagai penutupnya.

Para ulama menjelaskan bahwa shalat sunnah dapat menjadi penyempurna kekurangan shalat wajib. Dari sini muncul renungan dalam hati saya:

Bukankah mungkin witir juga merupakan simbol bahwa kasih sayang Allah datang setelah seluruh usaha manusia selesai?

Siang hari manusia penuh kekurangan.

Ada shalat yang kurang khusyuk.
Ada dzikir yang terputus.
Ada pandangan yang belum terjaga.
Ada niat yang tercampur.

Namun ketika malam tiba dan seorang hamba berdiri untuk witir, seakan ia sedang mengetuk pintu rahmat Allah sambil berkata:

“Ya Allah, aku telah berusaha semampuku. Sisanya aku serahkan kepada-Mu.”

Maka witir menjadi lambang bahwa rahmat Allah selalu lebih besar daripada kekurangan amal hamba.

Pola Ada dan Tiada

Dalam renungan berikutnya, saya melihat bahwa banyak ciptaan Allah berjalan dengan pola berpasangan.

Siang dan malam.
Hidup dan mati.
Masuk dan keluar.
Nafas dan hembusan.
Lapar dan kenyang.
Tidur dan bangun.

Bahkan teknologi modern yang dibuat manusia pun bekerja dengan pola sederhana: ada dan tidak ada.

Dalam bahasa komputer dikenal angka 1 dan 0.

Tentu bukan berarti komputer menjelaskan hakikat alam semesta. Namun manusia sering kali meniru sebagian kecil sunnatullah yang sudah Allah hamparkan dalam penciptaan.

Seakan-akan kehidupan dunia dibangun di atas pergantian keadaan.

Tidak ada siang yang abadi.
Tidak ada malam yang kekal.
Tidak ada sehat yang terus-menerus.
Tidak ada sakit yang selamanya.

Semua bergerak dalam irama pergantian.

Mengapa Puasa Daud Selang-Seling?

Di sinilah saya teringat kepada puasa Nabi Daud alaihissalam.

Sehari berpuasa.
Sehari berbuka.

Sehari menahan.
Sehari menerima.

Sehari lapar.
Sehari kenyang.

Sehari meninggalkan dunia.
Sehari berinteraksi dengan dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai puasa yang paling dicintai Allah.

Mengapa bukan puasa terus-menerus?

Mengapa justru pola selang-seling?

Wallahu a’lam.

Namun dalam renungan seorang hamba, puasa Daud seakan mengajarkan agar manusia tidak membeku dalam satu keadaan.

Karena dunia memang diciptakan bergerak.

Orang yang memahami pergantian akan mudah menerima takdir.

Ketika kaya ia tidak mabuk.

Ketika miskin ia tidak putus asa.

Ketika dipuji ia tidak terbang.

Ketika dicela ia tidak jatuh.

Karena ia tahu bahwa dunia berjalan dengan sunnatullah pergantian.

Rahasia Ganjil Menurut Hati Seorang Hamba

Saya tidak berani mengatakan bahwa inilah makna hadits yang sebenarnya.

Namun hati saya menangkap satu isyarat:

Bilangan genap selalu menunjukkan pasangan yang saling berhadapan.

Sedangkan bilangan ganjil selalu menyisakan satu.

Satu yang tidak mempunyai pasangan.

Satu yang berdiri sendiri.

Satu yang menjadi tempat kembali seluruh pasangan.

Bukankah hanya Allah yang demikian?

Segala sesuatu memiliki lawan.

Panas memiliki dingin.
Terang memiliki gelap.
Laki-laki memiliki perempuan.
Langit memiliki bumi.

Tetapi Allah tidak mempunyai tandingan, tidak mempunyai pasangan, tidak mempunyai lawan.

Karena itu ketika Allah mencintai yang witir, seakan-akan Allah sedang mengingatkan hamba agar jangan bergantung kepada pasangan-pasangan dunia.

Di balik semua sebab, ada Musabbibul Asbab.

Di balik semua gerak, ada Penggerak.

Di balik semua bilangan, ada Yang Maha Esa.

Penutup

Semakin lama saya merenungi witir, semakin saya merasa bahwa rahasia terbesarnya bukan pada angka ganjil itu sendiri.

Rahasia terbesarnya adalah rahmat.

Seorang hamba beramal dengan segala kekurangannya.

Lalu Allah menutup kekurangan itu dengan kasih sayang-Nya.

Sebagaimana malam ditutup dengan witir.

Sebagaimana amal ditutup dengan ampunan.

Aku juga berfikir apakah ini bentuk kasih allah yang mengingatkan hamba akan kekurangan diatas yang maha esa?

Apakah allah menunjukan hamba kembali pasanya

Apakah kasih allah dalam puasa daud puasa yang dicintainya bentuk dari rahmad memberikan sehari hak kepada manusia dan sehari hak kepadanya

Sebagaimana hidup seorang mukmin pada akhirnya ditutup dengan rahmat Allah semata.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Rekaman pengajian akan segera di upload, di aplikasi ashkhabiyyah