Puncak Makrifat: Istiqomah dalam Syariat, Bukan Karomah
Malam Rabu, sebuah pesan ruhani.
Puncak makrifat bukanlah terletak pada karomah, bukan pula pada kemampuan luar biasa atau klaim fanābillāh. Puncak makrifat sejati justru tampak pada istiqomah menjalankan syariat dengan kualitas yang tinggi, dalam maqām baqā’ billāh.
Syaikh Abdul Qadir al-Jailani—yang dikenal sebagai penghulu para wali—adalah contoh nyata. Beliau dikenal memiliki banyak karomah: mampu terbang di udara, berjalan di atas air, bahkan menghidupkan orang mati dengan izin Allah. Namun, semua itu tidak pernah beliau jadikan tujuan, apalagi bahan pamer.
Beliau memilih berjalan di bumi dengan adab, tunduk penuh pada syariat.
Beliau mengenal hakikat, tetapi tidak pernah menanggalkan syariat.
Sebab, orang yang benar-benar mengenal Allah bukan sibuk menunjukkan keistimewaan, melainkan takut jika satu perintah Allah terlalaikan.
Makrifat tidak menjauhkan seseorang dari syariat.
Sebaliknya, makrifat justru menguatkan dan memperhalus ketaatan.
Semakin tinggi pengenalan kepada Allah, semakin halus pula sikap kehambaan.
Karomah bisa saja muncul pada siapa pun, bahkan pada orang yang belum lurus jalan hidupnya. Namun istiqomah dalam syariat hanya lahir dari hati yang benar-benar mengenal Allah.
Di situlah rahasia para wali:
bukan menghilang sebagai manusia,
tetapi utuh sebagai hamba.
Utuh sebagai hamba.
Utuh sebagai hamba.
Utuh sebagai hamba.
(Ali ‘Imran: 31)
Waspada terhadap Klaim Hakikat tanpa Syariat
Jika ada seseorang yang melarang atau meremehkan syariat—meskipun ia tampak sakti, mandraguna, mengaku sudah sampai hakikat, bisa terbang atau berjalan di atas air—maka jangan diikuti.
Itu adalah manusia yang tertipu.
Begitulah pesan terakhir dari guru kami.
Semoga menjadi pengingat bagi kita semua.
Tinggal di Qāf, Jangan Terjebak di Nūn
“Manggono nang Qāf yo cung, ojo manggon nang Nūn,”
tinggallah di Qāf, jangan berhenti di Nūn.
Maknanya: jangan terjebak pada simbol, sensasi, dan keanehan lahiriah. Jika hati sudah tegak di Qāf—kokoh dalam tauhid dan syariat—maka dunia akan terasa ringan untuk dihadapi.
“Nggih Mbah, pangestune.”
Alam Adalah Pondok
Alhamdulillah, ada ilmu yang tidak pernah kami dapatkan secara formal di pesantren, namun justru kami temukan dalam perjalanan hidup.
Pondok itu bukan semata bangunan berpagar,
bukan hanya masjid,
bukan hanya orang bersarung, berkopiah, dan membawa kitab kuning.
Alam ini adalah pondok.
Setiap kejadian adalah pelajaran.
Setiap nafas adalah pengajian.
“Nggih Mbah.”
Pesan ruhani dari guru kami
KH. Masda Andi
31 Desember 2025

